Silahkan chat dengan tim kami Admin akan membalas dalam beberapa menit
Halo, Ada yang bisa kami bantu?
Mulai chat...
Tahfidz 30 Juz

PROGRAM UNGGULAN

TAHFIDZ 30 JUZ

Setiap tahun mencetak wisudawan-wisudawati tahfidz sekaligus proses wisuda yang disaksikan oleh seluruh undangan acara.

FASILITAS

TEMPAT NYAMAN

Didukung lokasi pesantren di wilayah kaki pegunungan, dengan tempat yang nyaman dan tepat untuk proses belajar dan menghafal santri

PPROGRAM UNGGULAN

QIRA'AT SAB'AH DAN 'ASYR

Pembelajaran beragam bacaan Al-Quran dari 7 dan 10 Imam yang tersambung kepada Rasulullah, lebih dikenal dengan Qira'at Sab'ah dan Qira'at 'Asyr.

Tahfidz 30 Juz

Program tahfidz dengan metode dan kurikulum pengajaran yang menyenangkan

Qira'at Sab'ah dan 'Asyr

Pembelajaran beragam bacaan Al-Quran dari Imam yang tersambung kepada Rasulullah, lebih dikenal dengan Qira'at Sab'ah dan Qira'at 'Asyr.

Madarasah Diniah

Program pembelajaran kitab-kitab salaf seperti Nahwu, Shorof, Fiqih dan Tafsir.

Selamat Datang

Selamat datang di Website PPSQ Asy-Syadzili, PPSQ Asy-Syadzili didirikan oleh KH. Ahmad Syadzili Muhdlor pada tahun 1970, KH. Ahmad Syadzili Muhdlor merupakan murid dari Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari pendiri Nahdlatul Ulama' (NU).

Pondok Putra Putri

Ahlussunnah Waljama'ah

Caracter Building

Target Hafalan

Pembimbing Berpengalaman

Ijazah dan Sanad Qur'an

VISI MISI

Membumikan al Qur'an, Melangitkan Manusia.

polio

Building Staffs

We need sure generate the internet repeat predefine tend true chunks as necessary tend true chunks as necessary the internet to repeat predefine tend true chunks.

Project on time

We need sure generate the internet repeat predefine tend true chunks as necessary tend true chunks as necessary the internet to repeat predefine tend true chunks.

Latest Tech

We need sure generate the internet repeat predefine tend true chunks as necessary tend true chunks as necessary the internet to repeat predefine tend true chunks.

Construction

We need sure generate the internet repeat predefine tend true chunks as necessary tend true chunks as necessary the internet to repeat predefine tend true chunks.

PRESTASI KAMI

Kumpulan prestasi yang diraih oleh Pondok Pesantren Salaf Al-Qur'an Asy-Syadzili.

Serives

LATEST NEWS

Update informasi perkembangan PPSQ Asy-Syadzili.

 Bal'am Bin Ba'ura Dan Do'a Nabi Musa

Bal'am Bin Ba'ura Dan Do'a Nabi Musa


 

Assalamualaikum, wr.wb

 

Wahai pembaca rahimakumullah. Kali ini Abuya dalam kajian Dhuha beliau membahas tentang penyebab su’ul khotimah. Dan salah satu dari penyebab tersebut akan kami uraikan dalam kisah berikut :

Masih ingatkah kita akan kisah seorang ulama di zaman Nabi Musa AS bernama Bal’am bin Ba’ura? Seorang ulama’ bani isra’il yang diberikan keistimewaan oleh Allah SWT dengan do’a yang mustajabah namun diakhir hayatnya dilaknat oleh Allah SWT.

Bal’am bin Ba’ura (dalam bahasa Ibrani disebut dengan Bileam putra Boer) termasuk ulama’ yang dekat dengan Nabi Musa AS. Karena kedekatanya dengan Nabi Musa ia dipercaya untuk mengemban sebuah amanah untuk berdakwah di kota Madyan. Sebab pada saat itu kota Madyan dipenuhi kemaksiatan dengan menyembah patung-patung dan berhala.

Tak lama kemudian, Berita kedatangan Bal'am sampai ke telinga raja Balqa’ (versi latin menyebutnya dengan Balaak) penguasa kota Madyan .Mengetahui jika Nabi Musa mengirim utusan padanya, raja Balqa’ ketakutan karena di hari itu Bani Israil sudah berhasil menaklukkan dua raja Jordan, yang kekuasaanya terletak tidak jauh dari Madyan.

Saat Bal’am bin Ba’ura sampai ke kota Madyan, sang raja mencoba untuk menyuap ulama’ ini. Bal’am disambut dengan meriah, kemudian diberi tempat tinggal besar dan dilayani oleh hamba sahaya yang banyak.

Bal’am merasa malu untuk menolak pemberian tersebut, dan pada akhirnya menerimanya begitu saja. Raja Balqa’ melihat hal ini sebagai kesempatan baginya untuk memanfaatkan doa-doa Bal’am yang dikenal mustajabah itu.

Tak lama kemudian datanglah kabar bahwa rombongan Nabi Musa akan datang menuju Syam. Raja Balqa’ dengan dibantu para pimpinan kota-pun datang menuju rumah Bal’am dan memintanya untuk mendoakan agar rombongan Nabi Musa celaka.

Awalnya Bal’am menolak dan berujar “Bagaimana aku bisa mengutuk orang yang memiliki malaikat bersamanya?”

Namun Raja dan penduduk Madyan terus mendesak agar Bal’am mau berdo’a dan mengutuk bani Israel. Sehingga dengan terpaksa Bal’am mengucapkan do’anya. Hal ini membuat Bani Isra’il terjebak dalam padang At-Tih selama 40 tahun. Bahkan hal itu menyebabkan Nabi Harun wafat, kemudian disusul Nabi Musa di bukit Thursina.

Diakhir hayatnya Nabi Musa bertanya pada Allah. “Wahai tuhanku, sebab apa kami terjebak disini?”

“Sebab do’anya Bal’am” jawab Allah.

“Sebagaimana engkau mengabulkan do’anya, maka kabulkan pula do’a hamba.” Pinta Nabi Musa. Nabi Musa kemudian meminta agar mencabut kemuliaan dalam diri Bal’am. Allah-pun mengabulkan do’a beliau sehingga kutukan itu hilang dan berbalik menimpa penduduk negri Madyan.

Bal’am sendiri dikutuk sehingga lidahnya menjutai ke dada seperti hewan. Di lain pihak rombongan Bani Isra’il akhirnya mampu melanjutkan perjalanan dibawah pimpinan Yusya’ bin Nun.

Raja Balqa’ heran dan segera meminta Bal’am untuk mengutuk rombongan Yusya’ namun Bal’am sudah kehilangan kemustajabanya. Dan dari sinilah akhir dari kemulianya.

Dari kisah tersebut, Abuya menjabarkan bahwa ciri-ciri Ulama’ yang buruk adalah mereka yang dekat dengan Umara’. Beliau juga menyebutkan bahwa uang riswah atau sogokan dari para pemimpin akan menjadikan seseorang wafat dalam keadaan su’ul khatimah.

Sama seperti kisah Bal’am bin Ba’ura diatas. Ia malu untuk menolak permintaan raja Balqa’ dan berbalik mengutuk Nabi Musa sebab suap yang ia terima. Bahkan setelah itu Bal’am bin Ba’ura menyarankan raja Balqa’ agar mengirimkan para pezina untuk menggoda rombongan Yusya' bin Nun di perkemahan mereka.

Al-Qur’an kemudian mengabadikan penyimpangan yang dilakukan oleh Bal’am ini dalam ayat berikut.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (175

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. “ (Q.S al- A’raf : 175)

Mengenai fasal ini, Abuya menyebutkan kisah lain. Ada seorang ahli Ibadah yang mana antara dia dan surga sudah sedekat satu hasta. Namun, ia melakukan perbuatan ahli neraka.Sehingga masuklah ia kedalam neraka.

Maka dari itu, berhati-hatilah akan penyebab su’ul khatimah. Sebab walaupun engkau memiliki pangkat yang bahkan langit selalu mendengar do’amu, kemungkinan untuk tersesat di bumi masih lapang.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan yang diwafatkan dalam keadaan khusnul khatimah, Amiin…


Wassalamualaikum Wr. Wb.

 

Salam Ta’dhzim Kami,

Santripasir Media Creative (Journalist Team)

19 Oktober 2020 M / 02 Rabi'ul Awwal 1442 H

Sumberpasir, Pakis, Malang.

 

 

Pengulangan Perintah Bakti Pada Orang Tua Dalam Al-Qur’an

Pengulangan Perintah Bakti Pada Orang Tua Dalam Al-Qur’an

 


Pengulangan Perintah Bakti Pada Orang Tua Dalam Al-Qur’an

 

  Assalamualaikum, wr. wb

Masih ingatkah kita akan kisah Alqamah? Seorang sahabat Rasulullah yang rajin beribadah (‘abid). Tapi di akhir hayatnya ia kesulitan mengucapkan dua kalimat syahadat.


Alkisah, istri Alqamah menitip pesan kepada Rasulullah SAW, Ya Rasul, aku mengadu kepadamu perihal suamiku. Sesungguhnya ia sekarang dalam naza’ (akan dicabut ruhnya).” Tanpa berlama-lama Rasulullah SAW mengutus Ammar bin Yasir, Shuhaib al-Rumi dan Bilal bin Rabah ra. untuk menjenguk Alqamah seraya berkata “Pergilah ke rumah Alqamah dan talqin-lah!”


Ketika sampai disana, mereka benar-benar heran. Bagaimana seseorang yang rajin beribadah seperti Alqamah tak mampu mengucap dua kalimat syahadat di akhir hayatnya, padahal mereka sudah menuntunya berkali-kali? Saat dipertanyakan apakah Alqamah mempunyai anggota keluarga lain selain istrinya, seseorang memberitahukan bahwa Alqamah mempunyai seorang ibu yang sudah lanjut usia dan tinggal sendiri di rumah yang jauh dari rumah anaknya.


Setelah itu, ketiga sahabat Nabi SAW tersebut datang menuju Rasulullah dan mengadukan segala hal yang terjadi di rumah Alqamah. Setelah Rasulullah mengetahui kabar tentang Ibu Alqamah, Rasulullah SAW bersabda kepada ketiga sahabat tersebut, “Sampaikan kepada ibu Alqamah. Jika dia masih mampu untuk berjalan. Maka  bersualah dengan Rasulullah. Jika tidak, berdiamlah di tempat biarkan Rasulullah saja yang datang menemui.”


Setelah pesan itu disampaikan. Dengan segala kearifan Ibu Alqamah membalas pesan tersebut seperti demikian, “Aku yang lebih pantas untuk menghadap Rasulullah.” Kemudian dia pun pergi menemui Rasulullah SAW dengan membawa tongkat sebagai alat bantu berjalan.


Setelah menghadap Rasulullah SAW, Ibu Alqamah mengungkapkan jika ia marah terhadap anaknya tersebut. Dulu ketika dia jauh-jauh berkunjung ke rumah sang anak. Anaknya memperlakukan istrinya lebih dari sang ibu dalam hal memberi hadiah pakaian ataupun makanan. Bukan berarti Alqamah adalah anak durhaka. Tetapi ibunya merasa Alqamah kurang berbakti kepada dirinya.


Dan itulah yang menjadi sebab Alqamah kesulitan dalam mengucapkan dua kalimat syahadat, ketika dalam keadaan naza’ sampai sekarang.


Dari kisah diatas kita, dapat mengetahui bahwa sedikit saja kita melakukan kesalahan kepada orang tua terutama ibu dan tidak meridhoi atas kesalahan yang kita perbuat. Maka, Allah-pun tidak akan ridho kepada kita.


Abuya Agus H. Abdul Mun’im Syadzili. Menyampaikan kisah tersebut seraya menjelaskan tentang perintah berbakti kepada orang tua. Yang mana perintah tersebut sering kali diulang-ulang didalam Al-Qur’an. Beliau mengutip ayat 83 dalam surat Al-Baqarah :


وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَٰقَ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا ٱللَّهَ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَانًۭا


“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, ‘Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan kepada kedua orang tua hendaklah berbuat-baik’.”…. (QS. Al-Baqarah: 83)


Kemudian diulangi lagi perintah itu dalam surat An-Nisa ayat 36:


وَٱعْبُدُوا۟ٱللَّه وَلَاتُشْرِكُو ۦ۟بِه شَيْـئاً ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إحْسَٰنًا


“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan kepada kedua orang tua hendaklah kamu berbuat baik …” (QS. An-Nisa: 36)


Bahkan diulangi lagi perintah ini dalam surat Al-An’am ayat 151 dengan konteks berbeda:


قُلْ تَعَالَوْا۟ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا


“Katakanlah (Muhammad) ‘Kemarilah kubacakan padamu apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua…’.” (QS. Al-An’am : 151)


Dalam ayat tersebut Rasulullah diperintah untuk menyebutkan hal-hal apa saja yang menjadi larangan dari Allah. Namun mengapa berbakti pada orang tua termasuk dalam bagian ayat ini? Padahal lanjutan dari potongan ayat tersebut seluruhnya berbentuk larangan. Dalam kajian tafsir, Abuya menyebutkan bahwa, makna dari kalimat  وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا dalam ayat itu bukan termasuk larangan. Melainkan peringatan bahwa sebanyak apapun seseorang beribadah atau sekuat apapun seseorang menjauhi larangan. Maka hal itu akan menjadi sia-sia apabila kita tidak berbakti kepada orang tua.


Pengulangan-pengulangan ini membuktikan bahwa betapa pentingnya kita dalam berbakti kepada kedua orang tua. Sebagaimana kisah Alqamah ra. seorang sahabat Rasulullah SAW yang mendapat kesulitan di akhir hayatnya karena menyakiti perasaan ibunya.


Abuya juga memberikan penjelasan bahwa kemuliaan seorang anak terlihat dari bagaimana cara anak tersebut berbakti kepada orang tua.


Sebagai contoh Al-Habib Ali Al-Habsyi di masa setelah wafatnya beliau, ada seorang wali dari makkah yang mendengar berita itu, kemudian berdoa. “Ya Allah berikanlah pangkat Habib Ali kepada saya” kemudian terdengar suara dari langit “Tidak seorang-pun pantas menerima pangkat dari (Al-Habib) Ali Al-Habsyi.”


Apa yang menjadi sebab betapa mulianya Al-Habib Ali Al-Habsyi? Sampai tidak ada seorangpun sepeninggal beliau yang pantas menerima pangkat beliau.


Disebutkan bahwa semasa hidupnya, Al-Habib Ali Al-Habsyi sangat berbakti kepada orang tuanya. Hingga beliau berkata “Dari seluruh harta benda ini, semuanya adalah milik orang tuaku.”


Maka alangkah baiknya jika kita sebagai seorang anak sekaligus santri mampu mempertanggung jawabkan ilmu yang telah dimiliki dan tak lupa, untuk selalu berusaha semaksimal mungkin dalam berbakti kepada orang tua. Agar kelak mendapat kemuliaan disisi Allah SWT. Amien…

Wassalamualaikum Wr. Wb.

 

Salam Ta’dhzim Kami,

Santripasir Media Creative (Journalist Team)

17 September 2020 M / 28 Muharram 1442 H

Sumberpasir, Pakis, Malang.

Liputan : Membumikan Kitab Suci ala Pesantren Salaf Al-Quran (PPSQ) Asy-Syadzili

Liputan : Membumikan Kitab Suci ala Pesantren Salaf Al-Quran (PPSQ) Asy-Syadzili

Luar biasa! Ungkapan itulah yang pas buat para santri penghafal Alquran Pondok Pesantren Salaf Al-Qur’an (PPSQ) Asy-Syadzili.

Betapa tidak, di tengah arus globalisasi pada era milenial saat ini, para santri berhasil diwisuda dengan mengkhatamkan hafalan Alquran 30 juz yang bertepatan dengan acara peringatan Haul Ke-29 KH Ahmad Syadzili Muhdlor di Desa Sumber Pasir, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Minggu (19/1/2020).



Rona bahagia jelas terpancar dari wajah para santri dan para wali santri saat nama putra-putrinya disebut.

Mereka mendapat cendera mata dari Ketua Yayasan Asy-Syadzili, KH Abdul Mujib (Gus Mujib).

Hadir juga dalam acara itu KH Agus Ali Masyhuri dari Ponpes Bumi Shalawat Sidoarjo, KH Masduki dari Jombang, para ulama dan juga para habaib khususnya wilayah Malang Raya.

“Anak adalah sebuah investasi yang sangat menjanjikan di masa depan, bukan sekadar harta dan kekayaan dunia semata. Seorang santri yang ingin menghafal Alquraan, dia harus berusaha keras sebab itu bukan soal bakat, melainkan soal niat dan ketekunan,” kata KH Abdul Mun’im Syadzili, Pengasuh (PPSQ) Asy-Syadzili saat sambutan.

Dalam keseharian, para santri memang memegang prinsip kedisiplinan.

Penggunaan ponsel tidak diperbolehkan demi fokus dalam menghafal.

Para santri bangun sebelum subuh untuk melaksanakan salat tahajud. Setelah salat asar, salat magrib, dan salat isya hingga pukul 21.30 mereka mengulang-ulang dan ber-muraja’ah dalam menghafal Alquran yang didampingi para instruktur.

Metode menghafal tiap santri tidak selalu sama. Ada yang satu ayat diulang-ulang sampai hafal baru melanjutkan ayat yang lain.

Ada yang satu halaman, satu waqaf (tanda berhenti bacaan), satu juz, dan seterusnya. Begitu pun cara mereka untuk menghilangan kejenuhan.

Berbagai kegiatan dilakukan seperti selawatan, banjarian, olahraga, dan sebagainya.

Semua berharap, anak-anak akan menjadi generasi yang tidak hanya cerdas dalam bidang ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi generasi yang Qurani.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan ornag tua untuk anak.

M Agus Susanto
Guru SMP IT Asy-Syadzili, Penulis Buku Rahasia Sederhana Meraih Rahmat Allah
mragussusanto9@gmail.com


Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Membumikan Kitab Suci ala Pesantren Salaf Al-Quran (PPSQ) Asy-Syadzili, https://surabaya.tribunnews.com/
Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Adrianus Adhi
Download Surat Edaran Liburan Santri Putra PPSQ Asy-Syadzili

Download Surat Edaran Liburan Santri Putra PPSQ Asy-Syadzili

Berikut surat edaran terkait pandemi virus Covid-19 dari PPSQ Asy-Syadzili 2 (Putri) Sumberpasir, Pakis, Malang

Download Surat Edaran Liburan Santri Putri PPSQ Asy-Syadzili

Download Surat Edaran Liburan Santri Putri PPSQ Asy-Syadzili

Berikut surat edaran terkait pandemi virus Covid-19 dari PPSQ Asy-Syadzili 2 (Putri) Sumberpasir, Pakis, Malang

File format .PDF silahkan di download


Sikap Tawakkal Dalam Menghadapi Covid-19

Sikap Tawakkal Dalam Menghadapi Covid-19

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Menindaklanjuti imbas dari adanya kerisauan bumi yang disebabkan muncul dan menyebarnya virus COVID-19 (Corona), banyak dari umat manusia menjadi terganggu kesehatannya. Kesehatan secara dhzohiriyyah maupun batiniyyah. Secara dhzohiriyyah tidak sedikit dari beberapa yang terjangkit virus tersebut, hingga menimbulkan korban jiwa.  Di Indonesia sendiri tercatat positif COVID-19 ada 450, yang dinyatakan sembuh ada 20, dan meninggal ada 38. 

https://drive.google.com/uc?export=view&id=1vA7VbHrps-ftX1KL0dTVDkGv6N9p1Bjn

Sedangkan secara bathiniyyah, banyak dari kalangan umat Islam muncul rasa takut yang berlebihan. Seolah-olah yang mempunyai kewenangan mencabut manusia (pada saat ini) adalah COVID-19. Hal ini sangat dikhawatirkan oleh ulama’ yang ada di Indonesia, dengan kata lain umat Islam yang ada di Indonesia sedang dalam darurat tauhid. Karena apa? Karena adanya virus ini umat Islam menjadi lebih takut (yang tidak wajar) terhadap kematian yang disebabkan terjangkitnya virus tersebut. Sampai rasa takut yang seperti ini mampu melebihi rasa takut (taqwa) umat Islam kepada Allah. Jelaslah sudah, apa yang menjadi kekhawatiran ulama Indonesia terkait darurat tauhid.

Fenomena yang demikian menjadi sangat akrab diperbincangkan di kalangan masyarakat umum, hingga pada pengajian sorogan usai sholat Dhuha oleh Abuya KH. Abdul Mun’im Syadzili (selaku pengasuh PPSQ Asy-Syadzili Sumberpasir) pada hari Kamis, 19 Maret 2020. Abuya sangat khawatir atas hal ini, khawatir terhadap ketauhidan dari santri Asy-Syadzili. Karena takut yang sangat berlebihan terhadap COVID-19 adalah kesalahan yang sangat fatal. Semestinya yang ditakutkan oleh umat Islam adalah takut kepada Allah dan takut meninggal dalam keadaan suul-khotimah. Dalam hal ini Abuya menyikapi dengan potongan ayat 8 dari Surat Al-Jumu’ah, Allah berfirman:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ

Artinya: ”Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu,…”

Besar kecilnya rasa takut akan kematian tidaklah mampu merubah memperpanjang umur. Karena kematian selalu mengikuti. Tidak terpengaruh dengan waktu dan keadaan. Kapanpun kita semua pasti akan mati. Jadi untuk masalah takut akan mati ketika adanya virus ini menjadi hal yang kurang benar. 

Semestinya rasa takut yang pantas adalah rasa takut kepada Allah, dalam arti lain takut mati dalam keadaan yang tidak baik, takut mati dalam keadaan tidak membawa islam dan iman. Lantas bagaimana cara kita menyikapi kejadian yang menimpa saat ini, yaitu dengan tawakkal. Abuya mewanti-wanti agar jangan sampai kita (semua) salah mengartikan tawakkal. 

Penjelasan terkait tawakkal, Abuya membuka dengan potongan ayat 3 dari Surat Ath-Thalaq, Allah berfirman :

 وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ

Artinya : “Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”

Selain itu Abuya menyebutkan hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Umar Ibnu al-Khottob, Nabi Muhammad SAW bersabda:
 
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً

Artinya: ”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”

Menjadi pribadi yang tawakkal adalah orang yang paling enak. Karena dengan tawakkal yag semestinya, kita akan tercukupi. Dan semestinya kita memposisikan tawakkal kita layaknya tawakkalnya burung yang disebutkan dalam hadist. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bagi beberapa diantara kita (umat manusia) salah dalam mengartikan tawakkal. Ada sebuah hikayat menceritakan bahwa ada sekelompok orang dari yaman hendak pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan tidak membawa bekal sama sekali. 

Lalu ada seseorang mempertanyakan hal tersebut,”mengapa kalian semua tidak berbekal sama sekali?”. Lalu mereka menjawab “kita semua bertawakkal (pasrah) kepada Allah”. Lalu mereka semua memulai berjalan menuju Makkah, pada akhirnya mereka semua diperjalanan meminta-minta (ngemis). kejadian tersebut menjadi Asbabun Nuzul dari ayat :

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

Artinya: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. 

Dengan bertawakkal yang semestinya akan mampu menjauhkan kita dari tindakan-tindakan yang kurang baik, seperti ngemis (pada hikayat di atas).

Penjelasan di atas menjadi latar belakang adanya kebijakan pesantren dalam menyikapi munculnya virus COVID-19 (Corona). Selain itu, alasan mengapa tidak diliburkannya pesantren adalah terkait tawakkal yang semestinya, pesantren memiliki peran penting dalam menyikapi kejadian ini dengan ikhtiar doa yang maksimal.
Ini menjadi alasan supaya tidak mengesampingkan usaha secara bathiniyyah dibalik usaha-usaha yang lain yang dilakukan oleh orang-orang, seperti sterilisasi, membagikan wawasan terkait pencegahan dan semacamnya. 

Bukankah bertindak tawakkal harus menyertakan adanya usaha?. Hal ini dikuatkan dengan adanya sebuah riwayat, ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Wahai Rasulullah, apakah saya ikat unta saya lalu tawakal kepada Allah Azza wa Jalla ataukah saya lepas saja sambil bertawakal kepada-Nya ? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

“Ikatlah dulu untamu itu kemudian baru engkau bertawakal !” (HR. At-Tirmidzi no. 2517, hasan)

Tidak berhenti pada kasus tawakkal yang telah dijelaskan di atas, pasti diantara kita pernah menemui pernyataan terkait lockdown (isolasi). Jadi istilah lockdown sudah ada dalam Islam sebelum semua ini ada. 

Seperti menganjurkan menghindari suatu daerah yang terkena wabah penyakit terdapat sebuah hadist dari Usamah r.a., Nabi Muhammad SAW bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ الطَاعُوْنَ بِأَرْضٍ، فَلاَ تَدْخُلُوْهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ، وَأَنْتُمْ فِيْهَا، فَلاَ تَخْرُجُوْا مِنْهَا.

Artinya: “Jika kalian mendengar ada wabah di suatu daerah, maka jangan memasuki daerah tersebut. Dan jika wabah terjadi di suatu daerah, dan kalian sedang berada di dalamnya, maka jangan keluar dari daerah tersebut”.

Maka dari itu, alangkah lebih baiknya bagi kita untuk mengikuti tuntunan yang telah duajarkan oleh Islam. Dan rasa takut terhadap virus tersbut sangatlah tidak pantas, karena virus tersebut juga ciptaan Allah. 

Barangkali virus tersebut adalah bala tentara yang Allah kirim untuk memberantas kaum-kaum yang tidak menyembah Allah. Hal ini dikuatkan dengan potongan ayat 31 dari Surat Al-Muddatstsir, Allah berfirman:

وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ ۚ

Artinya: “Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri.”

Demikian yang bisa disampaikan, semoga dengan adanya penjelasan di atas, kita tidak lagi keliru dalam bersikap tawakkal dan takut. Karena dengan adanya kejadian ini pastilah terbesit hikmah yang menakjubkan di dalamnya. Abuya juga berpesan kepada kita (santri) untuk lebih maksimal lagi dalam beribadah dan juga berdoa (dalam artian taqorrub ilallah), supaya kita semua terhindar dari virus tersbut dan segera dihilangkan wabah ini dari dunia.

 Aamien. (… Al-Fatihah)

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Salam Ta’dhzim Kami,
Creator Team Asy-Syadzili Center
Selasa,21 Maret 2020 M / 26 Rojab 1441 H
Sumberpasir, Pakis,

Maps And Contact

Temukan kami di Maps dengan mudah, atau hubungi kami melalui form dibawah ini.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *