Silahkan chat dengan tim kami Admin akan membalas dalam beberapa menit
Halo, Ada yang bisa kami bantu?
Mulai chat...
Tahfidz 30 Juz

PROGRAM UNGGULAN

TAHFIDZ 30 JUZ

Setiap tahun mencetak wisudawan-wisudawati tahfidz sekaligus proses wisuda yang disaksikan oleh seluruh undangan acara.

FASILITAS

TEMPAT NYAMAN

Didukung lokasi pesantren di wilayah kaki pegunungan, dengan tempat yang nyaman dan tepat untuk proses belajar dan menghafal santri

PPROGRAM UNGGULAN

QIRA'AT SAB'AH DAN 'ASYR

Pembelajaran beragam bacaan Al-Quran dari 7 dan 10 Imam yang tersambung kepada Rasulullah, lebih dikenal dengan Qira'at Sab'ah dan Qira'at 'Asyr.

Tahfidz 30 Juz

Program tahfidz dengan metode dan kurikulum pengajaran yang menyenangkan

Qira'at Sab'ah dan 'Asyr

Pembelajaran beragam bacaan Al-Quran dari Imam yang tersambung kepada Rasulullah, lebih dikenal dengan Qira'at Sab'ah dan Qira'at 'Asyr.

Madarasah Diniah

Program pembelajaran kitab-kitab salaf seperti Nahwu, Shorof, Fiqih dan Tafsir.

Selamat Datang

Selamat datang di Website PPSQ Asy-Syadzili, PPSQ Asy-Syadzili didirikan oleh KH. Ahmad Syadzili Muhdlor pada tahun 1970, KH. Ahmad Syadzili Muhdlor merupakan murid dari Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari pendiri Nahdlatul Ulama' (NU).

Pondok Putra Putri

Ahlussunnah Waljama'ah

Caracter Building

Target Hafalan

Pembimbing Berpengalaman

Ijazah dan Sanad Qur'an

VISI MISI

Membumikan al Qur'an, Melangitkan Manusia.

polio

Gedung Pembelajaran

Asy-Syadzili 1 memiliki dua gedung utama yang berlaku sebagai tempat pembelajaran dan kegiatan sehari-hari.

Jaminan

Kami menjamin lulusan pesantren sudah terbekali dengan pemahaman serta ilmu agama dan hafalan Al-Qur'an yang baik secara lafadz dan makna.

Bimbingan

Pesantren di bimbing langsung oleh pengasuh dan jajaran Asatidz-Asatidzah yang mumpuni dalam bidang keilmuan baik Kitab maupun Al-Qur'an.

Konstruksi

Pesantren kami saat ini tengah melakukan konstruksi gedung lantai 3 asrama C yang terletak di bagian timur pesantren, yang akan di alokasikan untuk para santri baru kedepanya.

PRESTASI KAMI

Kumpulan prestasi yang diraih oleh Pondok Pesantren Salaf Al-Qur'an Asy-Syadzili.

Serives

BERITA TERBARU

Update informasi perkembangan PPSQ Asy-Syadzili.

 Bantahan Ahlussunnah terhadap pengharaman Wasilah

Bantahan Ahlussunnah terhadap pengharaman Wasilah


Assalamualaikum, wr.wb  

        Asal kata Wasilah adalah wasala [وسل]dan mashdarnya wasiilatun;[وسيلة], artinya perantara, media atau sarana.Wasilahdalam kajian Islam, adalah perantara hamba kepada Allah SWT. Jadi Wasilah itu sarana agar Hamba terhubung kepada Allah SWT. 
        Dalam hal wasilah kubu Ahlussunnah mendapat banyak penentangan dari kubu Wahabi, dalam teori hukum Wahabi mereka membagi wasilah menjadi 3 hal :
        
        1. Wasilah Masyru(Disyariatkan), yaitu tawassul kepada Allah Azza wa Jalla dengan Asma’ dan Sifat-Nya dengan amal shalih yang dikerjakannya atau melalui do’a orang shalih yang masih hidup.

2.  Bidah, yaitu mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dengan cara yang tidak disebutkan dalam syariat, seperti tawassul dengan pribadi para Nabi dan orang-orang shalih, dengan kedudukan mereka, kehormatan mereka, dan sebagainya.

3. Syirik, bila menjadikan orang-orang yang sudah meninggal sebagai perantara dalam ibadah, termasuk berdo’a kepada mereka, meminta hajat dan memohon pertolongan kepada mereka.

Mereka membid’ahkan Wasilah terhadap Rasulullah. Dan men-kufurkan Ziarah kubur, dengan memakai dalil surat Az-Zumar, Allah Ta’ala berfirman:

 أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ 

“Ingatlah, hanya milik Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya .Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk bagi orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” [Az-Zumar: 3] [19]

Menurut mereka tawassul dengan meminta do’a kepada orang mati tidak diperbolehkan bahkan perbuatan ini adalah syirik akbar. Karena mayit tidak mampu berdo’a seperti ketika ia masih hidup.

Padahal kenyataanya, tidak ada unsur syirik terhadap apa yang dilakukan muslim Ahlussunnah. Sebab sangat jelas bahwa kita berdo’a dengan memakai asmaallah. Bukan asma mayyit. Sedangkan bentuk ziaroh kubur hanya bertujuan untuk mendoakan ahli kubur tersebut. Adapun meminta wasilah terhadap ulama’ yang meninggal tidak termasuk syirik karena pada dasarnya mereka tidak dihukumi mayyit.

Jadi alangkah baiknya jika pembaca rahimakumullah mengetahui dalil yang sebenarnya mengenai Tawassul dan berdo’a untuk ahli kubur.

Dalil meminta tawasul kepada ulama’ para Nabi dan orang-orang Shalih dari segi logika:

Mereka mengharamkan tawassul atas nabi dengan alasan bahwa dulu orang kafir memakai berhala Latta dan ‘Uzza sebagai wasilah menuju Allah. Mengenai hal ini Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki dalam kitab “Az Ziarah an Nabawiyah Baina al Syariah wa al Bid’ah beliau mengkritik pemahaman ini dan berujar dalam kitab beliau :

“Bagaimana mungkin mencintai orang yang dicintai Allah itu salah?”

Beliau marah, atas pendapat orang yang mengharamkan Ziaroh pada Rasul. Padahal itu merupakan suatu bentuk cinta kita terhadap Rasulullah SAW. Rasulullah berstatus Ahabbal Halqi ‘orang yang dicintai Allah’, maka apakah salah kita mencintai Rasul sebagaimana Allah-pun mencintainya?

Dan bagaimana mungkin mereka menyamakan Ahabbal Halqi dengan berhala Latta dan ‘Uzza, sehingga mereka memakainya sebagai dalil untuk mengharamkan ziaroh?

Artinya setiap bentuk ziaroh terhadap Nabi dan Ulama’ yang dicintai oleh Allah ataupun bertawassul terhadap mereka, merupakan bentuk cinta terhadap mereka.

Abuya Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki

Untuk tawassul sendiri baik ‘Ulama Ahlussunnah, Wahabi atau Syi’ah menggunakan dalil yang sama :

أَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱبْتَغُوٓا۟ إِلَيْهِ ٱلْوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُوا۟ فِى سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Arab-Latin: Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha wabtagū ilaihil-wasīlata wa jāhidụ fī sabīlihī la'allakum tufliḥụn Terjemah Arti: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Ma’idah: 35)

Ini adalah permintaan dari Allah, agar kita mencari wasilah (perantara), yaitu segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai sebab untuk mendekatkan kepada-Nya dan sampai pada terpenuhinya hajat dari-Nya. 

Namun, sebenarnya tawassul yang disebut ayat tersebut umum dan bersifat mutlak. Sehingga mereka yang membatasi tawassul itu sendiri tidak memiliki dasar atau dalil. Sedangkan jika tawassul itu hanya dinisbatkan pada amal shalih, padahal amal perbuatan merupakan sesuatu yang diciptakan, makadzat-dzat yang diridloi oleh Allah lebih berhak dibolehkan, mengingat ketinggian tingkat ketaatan, keyakinan dan ma'rifat dzat-dzat itu kepada Allah SWT.

Mengenai hal ini Allah SWT.berfirman:

 وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ جَآءُوكَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ ٱللَّهَ وَٱسْتَغْفَرَ لَهُمُ ٱلرَّسُولُ لَوَجَدُوا۟ ٱللَّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

Artinya : Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul-pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.(QS. An-Nisa' : 64).

Ayat ini dengan jelas menerangkan dijadikannya Rasulullah sebagai wasilah kepada Allah SWT. Firman Allah "Jaa-uuka" (mereka datang kepadamu) dan "Wastaghfaro lahumurrosuulu" (dan Rasul memohokan ampun untuk mereka). Andaikata tidak demikian, maka apa guna kalimat "Jaa-uuka"?

Lalu apakah tawasul itu dibolehkan secara umum, baik dengan orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati? Jawabanya ya, dibolehkan secara umum, karena ayat tersebut juga umum ('amm), baik Rasulullah hidup atau wafat.

Seperti itulah kiranya dalil-dalil yang bisa dijadikan patokan dalam ber-ziaroh. Semoga ilmu kita bermanfaat. Amiin.

 

Salam Ta’dhzim Kami,

Santripasir Media Creative (Journalist Team)

6 November 2020 M / 20 Rabi’ul Awwal 1442 H

Sumberpasir, Pakis, Malang.

Santri Dalam Tinta Sejarah Kemerdekaan Indonesia

Santri Dalam Tinta Sejarah Kemerdekaan Indonesia


 Assalamualaikum, wr. wb

Surabaya, 22 Oktober 1945.

Terik pada siang hari itu tak menyurutkan semangat jihad para santri. Semangat mereka dipicu oleh suatu keputusan yang terbentuk pada rapat PBNU 21 Oktober 1945. Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari selaku Rais Akbar di kantor PB ANO (Pengoeroes Besar Ansor Nahdlatoel Oelama) didampingi pula ketua besar PBNU KH. Wahab Hasbullah membuat suatu keputusan dalam bentuk resolusi yang diberi nama ‘Resolusi Jihad Fii Sabiilillah’ yang berisi :

 “Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep kalaoe dikertjakan sebagian sadja…)

Sebenarnya perang dunia ke II sudah selesai semenjak Jepang takluk pada tanggal 15 Oktober 1945. Namun tentara Inggris dengan dibonceng NICA datang diwaktu Indonesia sedang kosong kepemimpinan. Mereka hendak merebut kembali tahta jarahan Jepang yang telah mundur, yakni negara Indonesia.

Wajar saja hal ini membuat geram rakyat Indonesia, sehingga di cetuskanlah Resolusi Jihad. Kegeraman mereka di dukung pula oleh pidato menggebu-gebu Bung Tomo pada tanggal 24 Oktober 1945 di Surabaya dengan isi sebagai berikut :

“Kita ekstrimis dan rakyat, sekarang tidak percaya lagi pada ucapan-ucapan manis. Kita tidak percaya setiap gerakan (yang mereka lakukan) selama kemerdekaan Republik tetap tidak diakui! Kita akan menembak, kita akan mengalirkan darah siapa pun yang merintangi jalan kita! Kalau kita tidak diberi Kemerdekaan sepenuhnya, kita akan menghancurkan gedung-gedung dan pabrik-pabrik imperialis dengan granat tangan dan dinamit yang kita miliki, dan kita akan memberikan tanda revolusi, merobek usus setiap makhluk hidup yang berusaha menjajah kita kembali!”

“Ribuan rakyat yang kelaparan, telanjang, dan dihina oleh kolonialis, akan menjalankan revolusi ini. Kita kaum ekstrimis, kita yang memberontak dengan penuh semangat revolusi, bersama dengan rakyat Indonesia, yang pernah ditindas oleh penjajahan, lebih senang melihat Indonesia banjir darah dan tenggelam ke dasar samudera daripada dijajah sekali lagi! Tuhan akan melindungi kita! Merdeka! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

Bung Tomo pada saat berpidato pada 24 Oktober 1945

Kemelut panjang ini semakin menjadi-jadi dengan tewasnya Brigjend Aubertine Walter Sothern (A.W.S) Mallaby, di jembatan merah Surabaya. Komandan Brigade 49 Divisi Punjab India yang memimpin kekuatan tempur ±6000 pasukan, gugur hanya dengan peluru timah rakyat pribumi yang sontak menggegerkan seluruh dunia. (Dalam versi lain ada yang menyebutkan tewas ditikam bambu runcing) Dan disusul mobil yang memboncengnya hancur lebur diledakkan granat tangan.

Hal ini tentunya memunculkan amarah dari pihak Inggris yang dengan kacaunya membentuk banyak Ultimatum kepada rakyat Indonesia, salah satunya dengan menyerahkan senjata tanpa syarat.

Karena saat itu senjata yang dimiliki rakyat Indonesia hanya sejumlah beberapa pistol rampasan perang. Tentu saja tidak ada senjata yang akan diserahkan. Jendral Abdul Haris Nasution menyebutkan dalam Sejarah Perjuangan Nasional di bidang Bersenjata (1966) sebagai berikut :

“Ketika Pak Dirman (Jendral Sudirman) menginspeksi batalyon TKR di Bandung, beliau hanya menemukan sepucuk pistol yang dimiliki komandan Batalyon sementara anggota batalyon hanya memegang bambu runcing,” sebutnya.

Untuk memenuhi kebutuhan senjata ini tentunya masyarakat Indonesia tak kehabisan akal. Mereka memakai bambu runcing sebagai penggantinya. Lalu, apa yang spesial dari bambu runcing ini?

Bambu itu ternyata dilengkapi barakah do’a dari para Kyai. Salah satu dari Kyai yang  dipercaya berkah do’anya ialah Kyai Subkhi Parakan, beliau merupakan salah satu guru KH. Wahid Hasyim putra dari Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari.

KH. Subkhi Parakan, sang kyai bambu runcing

Bahkan diperoleh keterangan bahwa jumlah para tamu yang datang untuk menyepuh bambu runcing ke Parakan tak kurang dari 10 ribu orang per harinya.

Zuhri, dalam buku Guruku Orang-orang Pesantren menambahkan keterangan pelaksanaan penyepuhan tersebut :

“Sebelum berangkat ke medan pertempuran sembari berbaris dilapangan dengan membawa bambu runcing, para pejuang itu diberkahi oleh Kyai Subkhi dengan do’anya.” 

Hal itulah yang membuat para pejuang khususnya dari kalangan santri menjadi teguh hatinya dalam menghadapi tentara sekutu yang bersenjata lengkap. Hal ini juga membuktikan bahwa peran santri dalam usaha melepas negara dari genggaman para penjajah menjadi poin utama dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia.

Maka alangkah baiknya, kita selaku descendant (keturunan/penerus) para pejuang berusaha meneladani kegigihan leluhur kita dalam menjaga keutuhan bangsa ini. Jangan sampai muncul lagi kekosongan kepemimpinan dalam negri kita. Atau kosongnya jiwa kepemimpinan dalam hati pemuda-pemudanya. Terlebih lagi kekosongan Iman dalam hati para pemimpin-pemimpinya. 

Semoga artikel ini dapat membawa manfaat bagi kita semua. Amiin...

Wassalamualaikum, wr. wb

 

Salam Ta’dhzim Kami,

Santripasir Media Creative (Journalist Team)

30 Oktober 2020 M / 13 Rabi'ul Awwal 1442 H

Sumberpasir, Pakis, Malang.

 

Ketika Syetan Berdiri Di Mimbar Yaumul Akhir

Ketika Syetan Berdiri Di Mimbar Yaumul Akhir

 


 

Assalamualaikum, wr.wb

 

Siapa diantara kita yang tidak mengenal syetan? Musuh utama anak-cucu Adam ini sudah berencana menyesatkan umat manusia sejak zaman leluhur kita. Mulai dari godaan awal mereka pada Ibunda Siti Hawa untuk memakan buah khuldi, sampai munculnya pembunuhan pertama yang dilakukan manusia oleh Qabil.

Bahkan saking parahnya, di zaman sekarang ini bermunculan organisasi-organisasi satanisme atau penyembah syetan. Salah satunya tidak lain adalah Skull and Bones yang berdiri pada tahun 1832 di Amerika. Kisah satanisme bahkan diadaptasi kedalam sebuah film dokumenter berjudul Hail Satan?.

Oleh karena itu para pembaca sekalian, mari kita bertadabbur sejenak. Apakah sebegitu lemahnya iman manusia sampai-sampai dengan mudahnya dijerumuskan oleh syetan? Apa kontribusi syetan terhadap kehidupan orang-orang itu sampai-sampai mereka menjadikanya sebagai bahan untuk disembah?

Jawaban sebenarnya sangat mudah. Syetan tidak melakukan apapun untuk mencapai hal tersebut.

Abuya Agus. H Abdul Mun’im Syadzili dalam kajian tafsir beliau mengutip ayat Al-Qur’an surat Ibrahim  :

وَقَالَ ٱلشَّيْطَٰنُ لَمَّا قُضِىَ ٱلْأَمْرُ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ ٱلْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ ۖ وَمَا كَانَ لِىَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَٰنٍ إِلَّآ أَن دَعَوْتُكُمْ فَٱسْتَجَبْتُمْ لِى ۖ فَلَا تَلُومُونِى وَلُومُوٓا۟ أَنفُسَكُم ۖ مَّآ أَنَا۠ بِمُصْرِخِكُمْ وَمَآ أَنتُم بِمُصْرِخِىَّ ۖ إِنِّى كَفَرْتُ بِمَآ أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ ۗ إِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Yang Artinya : Dan berkatalah syetan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu". Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. (QS. Ibrahim: 22)

Ketika waktu hisab berserulah syetan terhadap para ahli neraka. Syetan memang berjanji memberikan kebahagiaan terhadap manusia. Tapi janji syetan itu hanyalah tipuan belaka. Dan syetan tak memiliki kemampuan sedikitpun untuk memaksa manusia mengikuti ajakanya.

Lalu apa yang membuat syetan bisa begitu mudah untuk menjerumuskan manusia?

Abuya menjawab, penyebabnya adalah kurangnya iman. Kuat dan kokohnya iman membuat seseorang mempunyai kekebalan terhadap godaan duniawi. Dan iman sendiri sifatnya naik dan turun. Artinya terkadang iman itu menguat dan terkadang juga melemah.

Imam At-Tirmidzi dalam Sunan At-Tirmidzi menyimpulkan sifat iman dengan kalimat yang sederhana dan ringkas.

"Al-Iimaanu yaziidu wa yanqush" Iman itu naik dan turun. "Yaziidu bith thaaah, wa yanqushu bil mashiyah", Ia naik bersama ketaatan dan turun bersama kemaksiatan.

Sederhananya, untuk memperkuat iman seseorang harus menjauhi maksiat dan rajin dalam berbuat taat.

Ada juga beberapa tips dari Rasulullah yang beliau sampaikan dalam Hadist yaitu :

“جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ “، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا؟

 قَالَ: ” أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

Rasulullah bersabda : “Perbaruilah iman kalian”

“Ya Rasulullah bagaimana kami dapat memperbarui iman kami?” tanya para sahabat.

Beliau bersabda : “ Perbanyaklah membaca Laailaahailallah”

(HR: Al-Hakim dalam al-mustadrak)

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memperkuat keimanan kita dengan memperbanyak amal ibadah dan menjauhi maksiyat. Semoga kita tidak dijadikan termasuk orang-orang yang akan mendengar pidato syetan nanti pada saat yaumul qiyamah. Amien.

Wassalamualaikum, wr. wb

 

Salam Ta’dhzim Kami,

Santripasir Media Creative (Journalist Team)

21 Oktober 2020 M / 04 Rabi'ul Awwal 1442 H

Sumberpasir, Pakis, Malang.

 

 Bal'am Bin Ba'ura Dan Do'a Nabi Musa

Bal'am Bin Ba'ura Dan Do'a Nabi Musa


 

Assalamualaikum, wr.wb

 

Wahai pembaca rahimakumullah. Kali ini Abuya dalam kajian Dhuha beliau membahas tentang penyebab su’ul khotimah. Dan salah satu dari penyebab tersebut akan kami uraikan dalam kisah berikut :

Masih ingatkah kita akan kisah seorang ulama di zaman Nabi Musa AS bernama Bal’am bin Ba’ura? Seorang ulama’ bani isra’il yang diberikan keistimewaan oleh Allah SWT dengan do’a yang mustajabah namun diakhir hayatnya dilaknat oleh Allah SWT.

Bal’am bin Ba’ura (dalam bahasa Ibrani disebut dengan Bileam putra Boer) termasuk ulama’ yang dekat dengan Nabi Musa AS. Karena kedekatanya dengan Nabi Musa ia dipercaya untuk mengemban sebuah amanah untuk berdakwah di kota Madyan. Sebab pada saat itu kota Madyan dipenuhi kemaksiatan dengan menyembah patung-patung dan berhala.

Tak lama kemudian, Berita kedatangan Bal'am sampai ke telinga raja Balqa’ (versi latin menyebutnya dengan Balaak) penguasa kota Madyan. Mengetahui jika Nabi Musa mengirim utusan padanya, raja Balqa’ ketakutan karena di hari itu Bani Israil sudah berhasil menaklukkan dua raja Jordan, yang kekuasaanya terletak tidak jauh dari Madyan.

Saat Bal’am bin Ba’ura sampai ke kota Madyan, sang raja mencoba untuk menyuap ulama’ ini. Bal’am disambut dengan meriah, kemudian diberi tempat tinggal besar dan dilayani oleh hamba sahaya yang banyak.

Bal’am merasa malu untuk menolak pemberian tersebut, dan pada akhirnya menerimanya begitu saja. Raja Balqa’ melihat hal ini sebagai kesempatan baginya untuk memanfaatkan doa-doa Bal’am yang dikenal mustajabah itu.

Tak lama kemudian datanglah kabar bahwa rombongan Nabi Musa akan datang menuju Syam. Raja Balqa’ dengan dibantu para pimpinan kota-pun datang menuju rumah Bal’am dan memintanya untuk mendoakan agar rombongan Nabi Musa celaka.

Awalnya Bal’am menolak dan berujar “Bagaimana aku bisa mengutuk orang yang memiliki malaikat bersamanya?”

Namun Raja dan penduduk Madyan terus mendesak agar Bal’am mau berdo’a dan mengutuk bani Israel. Sehingga dengan terpaksa Bal’am mengucapkan do’anya. Hal ini membuat Bani Isra’il terjebak dalam padang At-Tih selama 40 tahun. Bahkan hal itu menyebabkan Nabi Harun wafat, kemudian disusul Nabi Musa di bukit Thursina.

Diakhir hayatnya Nabi Musa bertanya pada Allah. “Wahai tuhanku, sebab apa kami terjebak disini?”

“Sebab do’anya Bal’am” jawab Allah.

“Sebagaimana engkau mengabulkan do’anya, maka kabulkan pula do’a hamba.” Pinta Nabi Musa. Nabi Musa kemudian meminta agar mencabut kemuliaan dalam diri Bal’am. Allah-pun mengabulkan do’a beliau sehingga kutukan itu hilang dan berbalik menimpa penduduk negri Madyan.

Bal’am sendiri dikutuk sehingga lidahnya menjutai ke dada seperti hewan. Di lain pihak rombongan Bani Isra’il akhirnya mampu melanjutkan perjalanan dibawah pimpinan Yusya’ bin Nun.

Raja Balqa’ heran dan segera meminta Bal’am untuk mengutuk rombongan Yusya’ namun Bal’am sudah kehilangan kemustajabanya. Dan dari sinilah akhir dari kemulianya.

Bileam bin Boer versi Alkitab, karya Gustav Jaeger

Dari kisah tersebut, Abuya menjabarkan bahwa ciri-ciri Ulama’ yang buruk adalah mereka yang dekat dengan Umara’. Beliau juga menyebutkan bahwa uang riswah atau sogokan dari para pemimpin akan menjadikan seseorang wafat dalam keadaan su’ul khatimah.

Sama seperti kisah Bal’am bin Ba’ura diatas. Ia malu untuk menolak permintaan raja Balqa’ dan berbalik mengutuk Nabi Musa sebab suap yang ia terima. Bahkan setelah itu Bal’am bin Ba’ura menyarankan raja Balqa’ agar mengirimkan para pezina untuk menggoda rombongan Yusya' bin Nun di perkemahan mereka.

Al-Qur’an kemudian mengabadikan penyimpangan yang dilakukan oleh Bal’am ini dalam ayat berikut.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (175

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. “ (Q.S al- A’raf : 175)

Mengenai fasal ini, Abuya menyebutkan kisah lain. Ada seorang ahli Ibadah yang mana antara dia dan surga sudah sedekat satu hasta. Namun, ia melakukan perbuatan ahli neraka.Sehingga masuklah ia kedalam neraka.

Maka dari itu, berhati-hatilah akan penyebab su’ul khatimah. Sebab walaupun engkau memiliki pangkat yang bahkan langit selalu mendengar do’amu, kemungkinan untuk tersesat di bumi masih lapang.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan yang diwafatkan dalam keadaan khusnul khatimah, Amiin…


Wassalamualaikum Wr. Wb.

 

Salam Ta’dhzim Kami,

Santripasir Media Creative (Journalist Team)

19 Oktober 2020 M / 02 Rabi'ul Awwal 1442 H

Sumberpasir, Pakis, Malang.

 

 

Pengulangan Perintah Bakti Pada Orang Tua Dalam Al-Qur’an

Pengulangan Perintah Bakti Pada Orang Tua Dalam Al-Qur’an

 


Pengulangan Perintah Bakti Pada Orang Tua Dalam Al-Qur’an

 

  Assalamualaikum, wr. wb

Masih ingatkah kita akan kisah Alqamah? Seorang sahabat Rasulullah yang rajin beribadah (‘abid). Tapi di akhir hayatnya ia kesulitan mengucapkan dua kalimat syahadat.


Alkisah, istri Alqamah menitip pesan kepada Rasulullah SAW, Ya Rasul, aku mengadu kepadamu perihal suamiku. Sesungguhnya ia sekarang dalam naza’ (akan dicabut ruhnya).” Tanpa berlama-lama Rasulullah SAW mengutus Ammar bin Yasir, Shuhaib al-Rumi dan Bilal bin Rabah ra. untuk menjenguk Alqamah seraya berkata “Pergilah ke rumah Alqamah dan talqin-lah!”


Ketika sampai disana, mereka benar-benar heran. Bagaimana seseorang yang rajin beribadah seperti Alqamah tak mampu mengucap dua kalimat syahadat di akhir hayatnya, padahal mereka sudah menuntunya berkali-kali? Saat dipertanyakan apakah Alqamah mempunyai anggota keluarga lain selain istrinya, seseorang memberitahukan bahwa Alqamah mempunyai seorang ibu yang sudah lanjut usia dan tinggal sendiri di rumah yang jauh dari rumah anaknya.


Setelah itu, ketiga sahabat Nabi SAW tersebut datang menuju Rasulullah dan mengadukan segala hal yang terjadi di rumah Alqamah. Setelah Rasulullah mengetahui kabar tentang Ibu Alqamah, Rasulullah SAW bersabda kepada ketiga sahabat tersebut, “Sampaikan kepada ibu Alqamah. Jika dia masih mampu untuk berjalan. Maka  bersualah dengan Rasulullah. Jika tidak, berdiamlah di tempat biarkan Rasulullah saja yang datang menemui.”


Setelah pesan itu disampaikan. Dengan segala kearifan Ibu Alqamah membalas pesan tersebut seperti demikian, “Aku yang lebih pantas untuk menghadap Rasulullah.” Kemudian dia pun pergi menemui Rasulullah SAW dengan membawa tongkat sebagai alat bantu berjalan.


Setelah menghadap Rasulullah SAW, Ibu Alqamah mengungkapkan jika ia marah terhadap anaknya tersebut. Dulu ketika dia jauh-jauh berkunjung ke rumah sang anak. Anaknya memperlakukan istrinya lebih dari sang ibu dalam hal memberi hadiah pakaian ataupun makanan. Bukan berarti Alqamah adalah anak durhaka. Tetapi ibunya merasa Alqamah kurang berbakti kepada dirinya.


Dan itulah yang menjadi sebab Alqamah kesulitan dalam mengucapkan dua kalimat syahadat, ketika dalam keadaan naza’ sampai sekarang.


Dari kisah diatas kita, dapat mengetahui bahwa sedikit saja kita melakukan kesalahan kepada orang tua terutama ibu dan tidak meridhoi atas kesalahan yang kita perbuat. Maka, Allah-pun tidak akan ridho kepada kita.


Abuya Agus H. Abdul Mun’im Syadzili. Menyampaikan kisah tersebut seraya menjelaskan tentang perintah berbakti kepada orang tua. Yang mana perintah tersebut sering kali diulang-ulang didalam Al-Qur’an. Beliau mengutip ayat 83 dalam surat Al-Baqarah :


وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَٰقَ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا ٱللَّهَ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَانًۭا


“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, ‘Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan kepada kedua orang tua hendaklah berbuat-baik’.”…. (QS. Al-Baqarah: 83)


Kemudian diulangi lagi perintah itu dalam surat An-Nisa ayat 36:


وَٱعْبُدُوا۟ٱللَّه وَلَاتُشْرِكُو ۦ۟بِه شَيْـئاً ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إحْسَٰنًا


“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan kepada kedua orang tua hendaklah kamu berbuat baik …” (QS. An-Nisa: 36)


Bahkan diulangi lagi perintah ini dalam surat Al-An’am ayat 151 dengan konteks berbeda:


قُلْ تَعَالَوْا۟ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا


“Katakanlah (Muhammad) ‘Kemarilah kubacakan padamu apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua…’.” (QS. Al-An’am : 151)


Dalam ayat tersebut Rasulullah diperintah untuk menyebutkan hal-hal apa saja yang menjadi larangan dari Allah. Namun mengapa berbakti pada orang tua termasuk dalam bagian ayat ini? Padahal lanjutan dari potongan ayat tersebut seluruhnya berbentuk larangan. Dalam kajian tafsir, Abuya menyebutkan bahwa, makna dari kalimat  وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا dalam ayat itu bukan termasuk larangan. Melainkan peringatan bahwa sebanyak apapun seseorang beribadah atau sekuat apapun seseorang menjauhi larangan. Maka hal itu akan menjadi sia-sia apabila kita tidak berbakti kepada orang tua.


Pengulangan-pengulangan ini membuktikan bahwa betapa pentingnya kita dalam berbakti kepada kedua orang tua. Sebagaimana kisah Alqamah ra. seorang sahabat Rasulullah SAW yang mendapat kesulitan di akhir hayatnya karena menyakiti perasaan ibunya.


Abuya juga memberikan penjelasan bahwa kemuliaan seorang anak terlihat dari bagaimana cara anak tersebut berbakti kepada orang tua.


Sebagai contoh Al-Habib Ali Al-Habsyi di masa setelah wafatnya beliau, ada seorang wali dari makkah yang mendengar berita itu, kemudian berdoa. “Ya Allah berikanlah pangkat Habib Ali kepada saya” kemudian terdengar suara dari langit “Tidak seorang-pun pantas menerima pangkat dari (Al-Habib) Ali Al-Habsyi.”


Apa yang menjadi sebab betapa mulianya Al-Habib Ali Al-Habsyi? Sampai tidak ada seorangpun sepeninggal beliau yang pantas menerima pangkat beliau.


Disebutkan bahwa semasa hidupnya, Al-Habib Ali Al-Habsyi sangat berbakti kepada orang tuanya. Hingga beliau berkata “Dari seluruh harta benda ini, semuanya adalah milik orang tuaku.”


Maka alangkah baiknya jika kita sebagai seorang anak sekaligus santri mampu mempertanggung jawabkan ilmu yang telah dimiliki dan tak lupa, untuk selalu berusaha semaksimal mungkin dalam berbakti kepada orang tua. Agar kelak mendapat kemuliaan disisi Allah SWT. Amien…

Wassalamualaikum Wr. Wb.

 

Salam Ta’dhzim Kami,

Santripasir Media Creative (Journalist Team)

17 September 2020 M / 28 Muharram 1442 H

Sumberpasir, Pakis, Malang.

Kontak Dan Lokasi

Temukan kami di Maps dengan mudah, atau hubungi kami melalui form dibawah ini.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *