• Home
  • Liputan Media Umat: Yang Penting Itu Rumah di Barzakh

Liputan Media Umat: Yang Penting Itu Rumah di Barzakh

Almaghfurlah KH. Ahmad Syadzili Muhdlar, Sumberpasir Kab. Malang
“Abah itu hidupnya dalam kekurangan, tapi beliau punya sifat loman (dermawan). Hampir setiap hari saya diperintahkan memberikan sesuatu pada orang yang jauh lebih membutuhkan. Beliau memang lebih mengutamakan orang lain. Kalau ada pedagang keliling, beliau biasanya membeli dagangannya, meski tidak membutuhkan. Supaya orang itu senang dapat rezeki untuk keluarganya,” tutur Gus Abdul Mun’im Syadzili tentang sosok abahnya, Almaghfurlah KH. Ahmad Syadzili Muhdhor, saat ditemui MU.

Almaghfurlah KH. Ahmad Syadzili yang pada tahun ini diperingati haulnya yang ke 24 memang sosok yang sangat sederhana. Menurut Gus Mun’im, Beliau tidak mau menampakkan diri sebagai sosok se orang kyai. Kalau dalam bahasa tasawwuf disebut khumul. Sehari-hari, beliau lebih sering memakai baju biasa dan bercelana. Itulah, mengapa kyai yang wafat pada bulan Oktober 1991 ini tidak mau membangun pondoknya, meski ada beberapa aghniya yang menawarkan diri. Baru menjelang wafatnya, pondok diperbolehkan untuk dibangun. Sampai ada guyonan, lha pondok sudah di tinggal kyainya kok dibangun.



Itulah sosok Almaghfurlah KH. Ahmad Syadzili Muhdhor. Beliau tidak begitu mempedulikan keadaan di dunia. Termasuk dalam urusan rumah, beliau tidak ingin punya rumah mewah, meski ada jamaah yang mau membantunya. Beliau punya prinsip, “Yang penting itu rumah kita yang di alam barzakh”.

Subhanallah, sebuah prinsip yang tampaknya sederhana. Namun, kalau direnungi sangat dalam maknanya. Rumah di dunia, sebesar dan semegah apapun toh hanya ditempati beberapa waktu saja. Sedang rumah yang sesungguhnya adalah di alam barzakh. Kuburan yang merupakan rumah di barzakh itu bisa menjadi taman surga (min riyadhul jannah) atau sebaliknya menjadi kubangan neraka (min hufarin niiran). Sudahkah kita membangun rumah kita di alam barzakh dengan amal ibadah atau kita lalai dengan itu.

Keturunan Giri
Kyai Syadzili lahir di Sedayu, Gresik tahun 1918. Beliau masih keturunan dari Kanjeng Sunan Giri.

Ayah beliau H. Muhdlar bin H. Khudhari Bani Imran. Saat berumur 4 tahun, Kyai Syadzili ditinggal wafat oleh ibunya. Beliau besar dalam asuhan abahnya. Selepas dikhitan, Kyai Syadzili kecil dipasrahkan kepada Romo Kyai Munawwar Al-Hafidz, Sedayu Gresik. Di bawah bimbingan langsung Kyai Munawwar, Kyai Syadzili sudah hafal Al-Qur’an bilghoib dalam usia 10 tahun.
Setelah ngaji kepada Kyai Munawwar, Kyai Syadzili meneruskan mondok di Pondok Kranji, Lamongan selama 5 tahun. Merasa belum cukup, beliau kemudian ngaji di Tebu Ireng, di bawah asuhan Hadrotus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari selama 8 tahun.

Pada masa mudanya, Kyai Syadzili di kenal sebagai seorang pemuda yang pandai dan memiliki ilmu yang mumpuni. Inilah yang membuat guru beliau, Almaghfurlah Romo Kyai Munawar kesengsem (senang) dengan beliau. Maka di ambillah beliau sebagai menantu oleh Kyai Munawar. Bersama sang istri, Kyai Syadzili dikaruniai 4 anak. Pertama almarhum Syeikh Muwaffaq Al-Hafidz, yang lama mukim di Tanah Suci. Kedua almarhumah Musyafiyah. Ketiga Haji Mu’adz. Keempat Hj. Qayimah. Namun, tahun 1959, istri beliau dipanggil oleh Allah SWT.

Selang beberapa tahun kemudian, ada seorang aghniya’ (dermawan) dari Pakis, Kabupaten Malang, Almarhum Haji Marzuki meminta Kyai Syadzili agar sudi menjadi guru ngaji di Pakis. Setelah istikhoroh, Kyai Syadzili mengamini permintaan tersebut. Beliau pun boyongan ke Pakis tepatnya di daerah Sumber Pasir.

Haji Marzuki dikenal sebagai tokoh Pakis yang peduli dengan dakwah Islam. Agar masyarakat mau datang ke masjid dan ikut ngaji, ia mengundang masyarakat sekitar untuk ke Masjid dan dijamu dengan berbagai hidangan yang enak. Tak jarang, ia menyembelih sapi dan kambing lalu dibagi-bagi kepada masyarakat yang mau datang ke Masjid. Jika sudah banyak masyarakat yang berkumpul, barulah Kyai Syadzili memberikan pengajian kepada mereka.

Nadzom Ta’lim Muta’allim
Karena tertarik dengan kepribadian dan keilmuan serta semangat dakwah Kyai Syadzili, Haji Marzuki pun kemudian menawari Kyai Syadzili untuk dinikahkan de ngan putrinya yang bernama Bu Nyai Siti Rahmah. Gayung bersambut. Kyai Syadzili kemudian menikah dengan Bu Nyai Siti Rahmah. Dari perkawinannya yang kedua ini, Kyai Syadzili dikaruniai 10 putra. Yaitu, Hj. Affifah Syadzili Alhafidz, Drs. H. Misbachu Rofiq Syadzili, H. Abdul Mujib Syadzili, Almh. H. Khalilah Syadzili, H. Abdul Qodir Syadzili, H. Abdul Mun’im Syadzili Alhafidz, Hj. Mufidah Syadzili Alhafidz, Dr. Mufidz Syadzili, Hj. Mufarrikhah Syadzili Al Hafidz, Adibatusshalikhah Syadzili Alhafidz.

Putra putri Kyai Syadzili memiliki keahlian yang beragam. Hal ini justru membawa berkah, sebab mereka bisa berperan dalam berbagai bidang kehidupan. Keberhasilan putra putrinya, tak lepas dari pendidikan dan bimbingan Kyai Syadzili. Kyai Syadzili merupakan sesosok orangtua yang sangat sayang pada anak-anak nya. Beliau selalu menina-bobok-kan putra putrinya sebelum mereka tidur. Uniknya, bukan dongeng atau nyanyian pengantar tidur yang beliau senandungkan.

Tapi, Nadzom Ta’lim Muta’allim. Harapannya, agar anak-anaknya nanti menjadi orang-orang yang cinta ilmu, memiliki etika atau adab orang yang menuntut ilmu dan tentu menjadi orang-orang yang berilmu.

Salah satu perhatian Kyai Syadzili pada anak-anaknya adalah masalah memilih teman. Kyai Syadzili selalu mengingatkan putra-putrinya agar jangan sampai salah dalam memilih teman. Sebab teman yang buruk itu bisa menjerumuskan. Dengan pola asuh yang penyayang dan lemah lembut itulah, putra-putri beliau menganggap ayahanda mereka sebagai figur Bapak yang nyung­ka­ni, berwibawa tapi bukan dalam arti me­na­kutkan.

Memang secara dzohirnya, beliau ja­rang sekali berbicara dengan putra-putrinya. Bagi orang lain yang tidak tahu, bisa jadi menganggap Kyai Syadzili ini kurang perhatian sama anak-anak nya. Namun di balik itu se­mua, beliau mengakrabkan diri dengan me­manjatkan do’a untuk anak-anaknya agar men­jadi anak yang berilmu lagi sholeh dan sholehah.

Keras Pada Santri
Pola asuh Kyai Syadzili kepada anak-anaknya dan kepada santi-santrinya memang beda, tapi tujuannya sama. Yakni bagaimana agar mereka menjadi hamba Allah yang berilmu, yang mana dengan ilmu tersebut bisa digunakan untuk kemaslahatan dirinya maupun seluruh ummat. Kalau terhadap anak-anaknya, Kyai Syadzili menampilkan fiigur bapak yang lembut, kalau pada santrinya, beliau sangat tegas. Kyai Syadzili betul-betul amanat dalam membimbing para santri sesuai dengan amanat para orang tua santri.

Kyai Syadzili tidak mau mengecewakan wali santri yang sudah titip kepada beliau. Hal ini sangat dirasakan oleh beberapa santri yang dulu pernah ngaji kepada beliau seperti Kyai Maftuch (Bululawang), Kyai Chusaini (Malang), Kyai Nur Kholis (Malang), Kyai Nur Salam. Beliau adalah guru yang menganut sistem tradisional yang keras dan tegas. Beliau tidak segan-segan memukul santri nya yang tambeng (nakal) dan malas. Hal ini dilakukan karena beliau sangat sayang kepada kepada santrinya. Beliau ingin melihat santri nya berhasil dalam tholabul ilmi (menuntut ilmu) dan pulang membawa ilmu yang bermanfaat. Dan kenyataanya, para santri yang pernah menimba ilmu kepada beliau rata-rata setelah pulang berhasil menjadi ulama besar.

Meski dalam urusan mendidik santri, Kyai Syadzili begitu disiplin dan keras, namun dalam urusan kebutuhan jasmani, Kyai Syadzili seringkali mendahulukan para santrinya daripada anak-anaknya. “Kalau ada makanan di rumah, seringkali abah menyuruh untuk memberikan dulu kepada para santri. Anak-anaknya diajak hidup prihatin”, kenang Gus Mun’im, putranya yang kini diamanahi melanjutkan estafet dakwah sebagai pengasuh pesantren.

Majelis Khataman Al-Qur’an
Kyai Syadzili hidupnya melekat dengan Al-Qur’an. Hari-hari diisi dengan mengajar Al-Qur’an, deresan dan semaan Al-Qur’an. Pada tahun 1969, Kyai Syadzili bersama para kyai yang lain membuka majelis khataman Al-Qur’an bil ghoib di Masjid Agung Jamik Malang. Sebelumnya, beliau meminta do’a restu dari Romo Kyai Arwani Kudus. Sang waliyullah itupun berpesan agar Kyai Syadzili mengadakan khataman sampai wafat.

Selain itu, Kyai Syadzili betul-betul menjaga keistiqomahan dalam ibadah. Shalat berjamaahnya tidak pernah putus. Shalat malam dan puasa sunnah juga selalu dilakukan. Ketekunannya dalam ibadah terlihat saat beliau beribadah haji. Selama ibadah haji, se kitar satu bulan tinggal di Mekkah, Kyai Syadzili melakukan umrah sunnah sampai 40 kali. Subhanallah. Bandingkan dengan jamaah haji sekarang, bisa umrah 7 kali saja sudah luar biasa.

Sebagai seorang ulama, Kyai Syadzili benar-benar memiliki sifat wara’ dan zuhud. Beliau tidak mau melakukan sesuatu yang hukumnya makruh. Beliau juga menghindari makanan yang makruh apalagi syubhat, alias tidak jelas halal haramnya. Maka, tidak heran jika beliau benar-benar menyiapkan hidupnya untuk kehidupan yang sesungguhnya di akhirat. Bagaimana dengan kita? (mu/frozz)

Posting Komentar

Recent News

[latest][5][recentright]

Info Penting

Jargon Pesantren
Membumikan Al-Qur'an, melangitkan manusia
Visi Misi PPSQ Asy-Syadzili
Terselenggaranya pendidikan berkualitas dan tercukupi fasilitas secara presentatif sehingga mewujudkan takhrij (Alumni) yang hafal Al-Qur'an Wa Ma'nan Wa 'Amalan.
Lembaga Pendidikan Dibawah Naungan Yayasan
SMP IT Asy-Syadzili
SMA IT Asy-Syadzili
SMA IT Asy-Syadzili
Kegiatan Ekstrakulikuler
Seni Qiro'ah 'Ashr
Seni Tilawatil Qur'an
Seni Banjari
Seni Syarhil Qur'an
Seni Fahmil Qur'an
Seni Kaligrafi
Seni Beladiri
Qiro'atul Qutub.