Profil Muasis PPSQ Asy Syadzili

Share:
KH. Syadzili Muhdlor lahir di Sedayu Gresik tahun1918, nasab beliau masih nyambung dengan Kanjeng Sunan Giri, salah satu wali yang termasuk wali songo, beliau adalah keturunan ketujuh Kanjeng Sunan Giri. Ayah beliau benama H. Muhdlor bin H. Khudlori Bani Imron, sejak kecil KH. Syadzili Muhdlor menjadi anak yatim karena ibunya wafat saat beliau berusia 4 tahun .


Beliau diasuh oleh yahnya dan ibu sambung, tak lama setelah dikhitan oleh ayahnya KH. Syadzili Muhdlor diantar mondok kepada Al-Maghfurlah Romo Kyai Munawar Sedayu Gresik untuk menghafal Al-Qur'an. Di bawah gemblengan Kyai Munawar inilah, KH. Syadzili berhasil menghafal Al-Qur'an Bil Ghoib pada usia 10 tahun, sejak kecil beliau merupakan anak yang selalu haus akan ilmu. Setelah mondok di Sedayau (Pesantren ternama yang berhasil mencetak Kyai-kyai besar) itu.

KH. Syadzili Muhdlor memperdalam ilmunya dengan mondok di Keranji, Lamongan. Di pondok itu beliau habiskan waktu 5 tahun. Setelah itu beliau lanjutkan pengembaraannya dalam mencari ilmu dan menambah guru di pondok lai, tidak tanggung-tanggung belua langsung menimba ilamu kepada Hadratush Syekh Kyai Hasym Asy'ari ulama' besar yang mendirikan Nahdaltul ulama' (NU) beliau nyantri di tebu ireng selama 8 tabun.

1.Berkeluarga Dan Berdakwah
Pada masa mudanya, KH. Syadzili Muhdlor dikenal sebagai pemuda yang pandai dan memiliki ilmu yang mumpuni. Almaghfurlah Romo Kyai Munawar kesengsem pada beliau, maka diambillah beliau menjadi menantu oleh Kyai Munawar dan KH. Syadzili Muhdlor dikarunia 4 anak diantaranya 1. Syekh Muafak Al-Hafidh (sekarang menjadi penduduk Makkah) 2. Musyafiyah (Al-marhumah) 3. H. Mu'adz (tinggal di Malang) 4. Hj. Qoyimah (tinggal di Malang). Namun Allah SWT maha berkehendak, pada tahun 1959, istri beliau wafat, KH. Syadzili Muhdlor cukup sedih kehilangan istri tercintanya, namun beliau ikhlas dan tetap sabar menerima cobaan ini.

Selang beberapa bulan kemudian ada seorang aghniya' bernama H. Marzuqi (Al-marhum) berasal dari Pakis, Kabupaten Malang, meminta KH. Syadzili Muhdkor agar sudi mengajar orang-orang Pakis. Setelah istikhoroh KH. Syadzili Muhdlor setuju untuk tinggal di Pakis. Beliaupun boyongan ke Pakis tepatnya di Desa Sumberpasir.

H. Marzuqi sendiri dikenal sebagai tokoh Pakis yang memperhatikan betul masalah dakwah islamiyah. Beliau punya cara sendiri dalam dakwahnya dimana beliau mengundang masayarakat sekitar untuk ke Masjid, di sana masyarakat yang hadir dijamu dengan hidanagn-hidangan yang enak-enak, beliau ikhlas menyembelih sapid an kambing buat dibagi-bagi pada masyarakat yang mau datang kemasjid, jika sudah banyak masyarakat yang berkumpul, barulah KH. Syadzili yang kebagian mengajar mereka ngaji.

Mungkin karena tertarik kepada semangat juangnya yang tinggi H. marzuqi menawari KH. Syadzili Muhdlor untuk dinikahkan dengan putrinya yang bernama Ibu Nyai Siti Rahmah Marzuqi. Dalam perkawinan ini KH. Syadzilim Muhdlor dikarunia 10 anak: 1. Hj. Afifah Sy Al-HAfidh, 2. Drs. Misbahcur Rofiq, 3. Drs. Abdul Mujib Sy. M. Si, 4. Kholilah Sy (Al-Marhumah) 5. Drs. Abdul Qodir Sy, 6. H. Abdul Mun'im Sy Al-Hafidh, 7. Mufidah Sy Al-Hafidhoh, 8. dr. Muhammad Mufid Sy, 9. Mufarrichah Sy Al-Hafidhoh, 10. Adibatus Sholichah Sy Al-Hafidh.

2.Pendidikan Anak dan Mengajar Santri
KH. Syadzili Muhdlor merupakan sosok Bapak yang sangat sayang kepada anak-anaknya, beliau selalu meninabobokkan mutra-putrinya sebelum mereka tidur, beliau selalu bersenandung nadzom ta'lim muta'allim dengan harapan agar anaknya nanti paham akan ilmu dan etika orang yang menuntut ilmu, KH. Syadzili Muhdlor selalu mengingatkan putra-putrinya agar jangan sampai salah memilih teman sebab teman yang buruk bisa menjerumuskan.

Dengan pola asuh penyayang dan lemah lembut itulah, putra-putri beliau menganggab ayahanda mereka sebagai figure bapak yang nyungkani, memang secara dhohir beliau jarang sekali berbicara dengan putra-putrinya, bagi orang lain yang tidak tahu akan beranggapan bahwa KH. Syadzili Muhdlor kurang perhatian kepada anak-anaknya, namun dibalik itu semua, beliau mengakapkan diri dengan memanjatkan do'a kepada Allah agar anak-anaknya menjadi anak yang shaleh dan shalihah, dan alhamdulillah Allah mengabulkan do'a beliau, putra-putri beliau sekarang menjadi anak-anak yang shaleh dan shalihah meneruskan jejak abahnya.

Pola asu KH. Syadzili Muhdlor kepada anak-anak dan santri-santrinya memang beda, tapi tujuannya sama, yakni bagaimana agar mereka menjadi hamba-hamba Allah yang berilmu, yang mana dengan ilmu tersebut bisa digunakan untuk kemaslahatan dirinya maupun seluruh ummat. Kalau kepada anak-anaknya KH. Syadzili Muhdlor menampilkan figure bapak yang lembut, dan kalau kepada santrinya, beliau sangat tegas.

Beliau sangat amanat dalam membimbing para santri sesuai dengat amanat orang rua santri, beliau tidak mau mengecewakan wali santri yang sudah titip kepada beliau. Hal ini sangat di rasakan oleh para murid yang dulunya nyantri kepada beliau, seperti KH. Maftuh (pengasuh PP. Al-Munawariyah, Bululawang, Malang), KH. Chusaini (Malang), KH. Nur Cholis (Malang)

3. Istiqomah dalam beribadah

Tidak ada komentar

Untuk menyisipkan kode pendek, gunakan <i rel="code"> ... KODE ... </i>
Untuk menyisipkan kode panjang, gunakan <i rel="pre"> ... KODE ... </i>
Untuk menyisipkan gambar, gunakan <i rel="image"> ... URL GAMBAR ... </i>