• Home
  • Sejarah Pendiran PPSQ Asy-Syadzili

Sejarah Pendiran PPSQ Asy-Syadzili

Berdirinya Pondok Pesantren Qur'an (PPSQ) Asy-Syadzili berawal dari seorang kaya raya yang sangat dermawan, beliau adalah H. MARZUQI, beliau memiliki hobi (kesukaan) yang aneh, hobi (kesukaan) beliau adalah mengambil menantu kyai yang diantaranya ialah:

  • KH. Masluchin dari
  • KH. Hasan dari Pasuruan
  • KH. Ghozali dari Gresik

Pada tahun 1969 beliau (H. Marzuqi) mendapat informasi bahwa salah satu menantu KH. Munawar – Sedayu Gresik – ditinggal kembali mkerahmatullah oleh istrinya (putri dari KH. Munawar), dan menantu beliau (KH. Munawar) merupakan salah satu santri dari Hadrotus Syech KH. Hasyim Asy'ari -Jombang Jawa Timur- serta yang selama ini membantu mengasuh para santri.


Maka setelah mendengar informasi tersebut H. Marzuqi berkeinginan untuk mengambil KH. Syadzili Muhdlor (menantu KH. Munawar) sebagai menantu beliau dengan purtinya yang bernama Rahmah Marzuqi yang saat itu masih berusia 14 tahun sedangkan KH. Syadzili Muhdlor pada saat itu berusia 41 tahun, dan terkabullah keinginnan H. Marzuqi untuk menynting KH. Syadzili Muhdlor menjadi menantunya, semenjak KH. Syadzili Muhdlor menjadi menantu H. Marzuqi dan menetap di Sumberpasir maka beliau (KH. Syadzili Muhdlor) mumulai merintis pendidikan agama di sekitar wilayah sumberpasir.

Pada awalnya tidak ada santri yang menetap, sekitar tahun 1961-1980 terjadi kejadian aneh, tanpa alasan yang jelas beliau membubarkan para santri, kemudian beliau merintis kembali pendidikan agama yang telah dibubarkan tersebut, setelah di rintis kembali maka masuklah santri dari luar (santri pertama) yang menjadi cikal bakal menetapnya santri sampai saat ini, santri putra pertama tersebut bernama Maftuh dari gresik (saat ini lebih dikenal KH. Maftuh pengasuh PONPES AL-MUNAWARIYAH -Sudimoro, Bululawang, Malang-) dan santri putri pertama yang bernama Maftuhah dari Kediri, kedua santri dan santriwati tersubut tidak menetap di asrama melainkan menetap di ndalem (rumah) mertua pengasur sebab pada waktu itu mu'assis belum memiliki asrama sebagai tempat tinggal santrinya.

Pada tahun 1970 sudah banyak santri yang datang untuk nyantri (menetap) tetapi karena keterbatasan tempat dan fasilitas maka mereka belum bisa diterima hingga akhirnya pada tahun 1975 dibangunlah sebuah asrama kecil di atas tanah waqaf masjid yang berkapasitas sekitar 15 orang.

Pada tahun 1980-an ada seorang dermawan yang membeli rumah keluarga ibu Nyai (Hj. Rahmah MArzuqi) untuk diwaqofkan kepondok, dermawan tersebut ialah H. Jainal Abidin, dan rumah tersebut langsung difungsikan sebagai tempat tinggal para santri. Karena keterbatsan tempat dan yang lainnya maka pada waktu itu pengasuh membatasi jumlah santrinya sebanyak 40 orang dan pada saat itu juga pendidikan masih terfokus pada tahfidhul Qur'an saja, sebenarnya banyak fihak-fihak yang ingin membangun pondok tapi pengasuh belum berkenan untuk membangunnya.

Pada tahun 1980-an di bangun juga asrama pondok putri dengan kapasitas sekitar 30 orang, berdirinya pondok putri ini atas jasa ibu Nyai (Hj. Rahmah Marzuqi) dengan tanpa restu mu'assis, Ibu Nyai memberikan tanahnya untuk dibangun pondok.

Tahun 1991, 14 hari sebelum beliau wafat, beliau berwasiat kepada Ibunyai dan putra putrinya, agar mengijinkan orang/siapa saja yang berkeinginan membangun pondok, dan akhirnya pada tanggal 24 Djumadil Awal 1412 H beliau di panggil oleh sang kholiq, beliau wafat pada usia 75 tahun, saat-saat terakhir menjelang beliau wafat, beliau berwasiat:


  • Kepada Ibu Nyai "Aku lek mati selametono lan arek-arek kudu terus golek elmu ojo oleh mandek" (Adakan selamatan kalau aku meninggal dunia, dan anak-anak harus terus menuntut ilmu dan jangan sampai berhenti)



  • Pada salah seorang putra beliau "Ikhtiar iku hukume wajib lan ikhtiarku berobat wes cukup, awakmu kudu iso sabar lan terusno lek golek elmu" (ikhtiar itu hukumnya wajib dan ikhtiarku dalam berobat sudah cukup, kamu harus bisa bersabar dan lanjutkanlah dalam mencari ilmu)


Setelah beliau wafat, pondok putri langsung diambil alih oleh Nyai Hj. Afifah salah seorang putri beliau yang sudah lama ikut membantu mengajar, sedangkan untuk santri putra berada di bawah kendali Ibu Nyai Rahmah Marzuqi karena belum ada yang siap menggantikan mu'assis (KH. Syadzili Muhdlor) sedangkan pengajarannya diserahkan kepada santri senior yaitu Ust. Munadi dan Hasyim.

Hal tersebut kurang efektif dan itu terjadi kurang lebih selama 1 tahun, dan selanjutnya terjadi kefakuman kurang lebih selama 3 tahun pada saat itu jumlah santri kira-kira tinggal 10 orang, hingga akhirnya pada tahun 1995 salah seorang putra beliau yaitu Agus H. Abdul Mun'im Syadzili pulang dari menuntut ilmu di Pondok Pesantntren Al-Falah Ploso, Mojo, Kediri, namum waktu itu pengajaran bagi para santri belum bisa meksimal karena konsentarsi beliau (Agus Abdul Mun'im Syadzili) terpecah antara melanjutkan tugas pendidikan di PPSQ Asy-Syadzili dan tugas belajar di PP Al-Falah Ploso, jadi beliau harus pulang dan pergi antara Kediri dan Malang, jadi beliau membagi waktu selama 3 hari beliau ada di rumah untuk mengajar dan 3 hari beliau berada di PP Al-Falah Ploso untuk belajar, dan hal tersebut berjalan selama 3 tahun.

Hingga akhirnya pada tahun 1998 beliau mulai berkonsentrasi di rumah dan mulai merintis pendidikan diniyah yang selama ini belum terlaksana di PPSQ Asy-Syadzili.Sejarah Pendiran PPSQ Asy-Syadzili

Posting Komentar

Recent News

[latest][5][recentright]

Info Penting

Jargon Pesantren
Membumikan Al-Qur'an, melangitkan manusia
Visi Misi PPSQ Asy-Syadzili
Terselenggaranya pendidikan berkualitas dan tercukupi fasilitas secara presentatif sehingga mewujudkan takhrij (Alumni) yang hafal Al-Qur'an Wa Ma'nan Wa 'Amalan.
Lembaga Pendidikan Dibawah Naungan Yayasan
SMP IT Asy-Syadzili
SMA IT Asy-Syadzili
SMA IT Asy-Syadzili
Kegiatan Ekstrakulikuler
Seni Qiro'ah 'Ashr
Seni Tilawatil Qur'an
Seni Banjari
Seni Syarhil Qur'an
Seni Fahmil Qur'an
Seni Kaligrafi
Seni Beladiri
Qiro'atul Qutub.
banner