Silahkan chat dengan tim kami Admin akan membalas dalam beberapa menit
Halo, Ada yang bisa kami bantu?
Mulai chat...

Sikap Tawakkal Dalam Menghadapi Covid-19

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Menindaklanjuti imbas dari adanya kerisauan bumi yang disebabkan muncul dan menyebarnya virus COVID-19 (Corona), banyak dari umat manusia menjadi terganggu kesehatannya. Kesehatan secara dhzohiriyyah maupun batiniyyah. Secara dhzohiriyyah tidak sedikit dari beberapa yang terjangkit virus tersebut, hingga menimbulkan korban jiwa.  Di Indonesia sendiri tercatat positif COVID-19 ada 450, yang dinyatakan sembuh ada 20, dan meninggal ada 38. 

https://drive.google.com/uc?export=view&id=1vA7VbHrps-ftX1KL0dTVDkGv6N9p1Bjn

Sedangkan secara bathiniyyah, banyak dari kalangan umat Islam muncul rasa takut yang berlebihan. Seolah-olah yang mempunyai kewenangan mencabut manusia (pada saat ini) adalah COVID-19. Hal ini sangat dikhawatirkan oleh ulama’ yang ada di Indonesia, dengan kata lain umat Islam yang ada di Indonesia sedang dalam darurat tauhid. Karena apa? Karena adanya virus ini umat Islam menjadi lebih takut (yang tidak wajar) terhadap kematian yang disebabkan terjangkitnya virus tersebut. Sampai rasa takut yang seperti ini mampu melebihi rasa takut (taqwa) umat Islam kepada Allah. Jelaslah sudah, apa yang menjadi kekhawatiran ulama Indonesia terkait darurat tauhid.

Fenomena yang demikian menjadi sangat akrab diperbincangkan di kalangan masyarakat umum, hingga pada pengajian sorogan usai sholat Dhuha oleh Abuya KH. Abdul Mun’im Syadzili (selaku pengasuh PPSQ Asy-Syadzili Sumberpasir) pada hari Kamis, 19 Maret 2020. Abuya sangat khawatir atas hal ini, khawatir terhadap ketauhidan dari santri Asy-Syadzili. Karena takut yang sangat berlebihan terhadap COVID-19 adalah kesalahan yang sangat fatal. Semestinya yang ditakutkan oleh umat Islam adalah takut kepada Allah dan takut meninggal dalam keadaan suul-khotimah. Dalam hal ini Abuya menyikapi dengan potongan ayat 8 dari Surat Al-Jumu’ah, Allah berfirman:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ

Artinya: ”Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu,…”

Besar kecilnya rasa takut akan kematian tidaklah mampu merubah memperpanjang umur. Karena kematian selalu mengikuti. Tidak terpengaruh dengan waktu dan keadaan. Kapanpun kita semua pasti akan mati. Jadi untuk masalah takut akan mati ketika adanya virus ini menjadi hal yang kurang benar. 

Semestinya rasa takut yang pantas adalah rasa takut kepada Allah, dalam arti lain takut mati dalam keadaan yang tidak baik, takut mati dalam keadaan tidak membawa islam dan iman. Lantas bagaimana cara kita menyikapi kejadian yang menimpa saat ini, yaitu dengan tawakkal. Abuya mewanti-wanti agar jangan sampai kita (semua) salah mengartikan tawakkal. 

Penjelasan terkait tawakkal, Abuya membuka dengan potongan ayat 3 dari Surat Ath-Thalaq, Allah berfirman :

 وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ

Artinya : “Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”

Selain itu Abuya menyebutkan hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Umar Ibnu al-Khottob, Nabi Muhammad SAW bersabda:
 
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً

Artinya: ”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”

Menjadi pribadi yang tawakkal adalah orang yang paling enak. Karena dengan tawakkal yag semestinya, kita akan tercukupi. Dan semestinya kita memposisikan tawakkal kita layaknya tawakkalnya burung yang disebutkan dalam hadist. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bagi beberapa diantara kita (umat manusia) salah dalam mengartikan tawakkal. Ada sebuah hikayat menceritakan bahwa ada sekelompok orang dari yaman hendak pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan tidak membawa bekal sama sekali. 

Lalu ada seseorang mempertanyakan hal tersebut,”mengapa kalian semua tidak berbekal sama sekali?”. Lalu mereka menjawab “kita semua bertawakkal (pasrah) kepada Allah”. Lalu mereka semua memulai berjalan menuju Makkah, pada akhirnya mereka semua diperjalanan meminta-minta (ngemis). kejadian tersebut menjadi Asbabun Nuzul dari ayat :

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

Artinya: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. 

Dengan bertawakkal yang semestinya akan mampu menjauhkan kita dari tindakan-tindakan yang kurang baik, seperti ngemis (pada hikayat di atas).

Penjelasan di atas menjadi latar belakang adanya kebijakan pesantren dalam menyikapi munculnya virus COVID-19 (Corona). Selain itu, alasan mengapa tidak diliburkannya pesantren adalah terkait tawakkal yang semestinya, pesantren memiliki peran penting dalam menyikapi kejadian ini dengan ikhtiar doa yang maksimal.
Ini menjadi alasan supaya tidak mengesampingkan usaha secara bathiniyyah dibalik usaha-usaha yang lain yang dilakukan oleh orang-orang, seperti sterilisasi, membagikan wawasan terkait pencegahan dan semacamnya. 

Bukankah bertindak tawakkal harus menyertakan adanya usaha?. Hal ini dikuatkan dengan adanya sebuah riwayat, ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Wahai Rasulullah, apakah saya ikat unta saya lalu tawakal kepada Allah Azza wa Jalla ataukah saya lepas saja sambil bertawakal kepada-Nya ? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

“Ikatlah dulu untamu itu kemudian baru engkau bertawakal !” (HR. At-Tirmidzi no. 2517, hasan)

Tidak berhenti pada kasus tawakkal yang telah dijelaskan di atas, pasti diantara kita pernah menemui pernyataan terkait lockdown (isolasi). Jadi istilah lockdown sudah ada dalam Islam sebelum semua ini ada. 

Seperti menganjurkan menghindari suatu daerah yang terkena wabah penyakit terdapat sebuah hadist dari Usamah r.a., Nabi Muhammad SAW bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ الطَاعُوْنَ بِأَرْضٍ، فَلاَ تَدْخُلُوْهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ، وَأَنْتُمْ فِيْهَا، فَلاَ تَخْرُجُوْا مِنْهَا.

Artinya: “Jika kalian mendengar ada wabah di suatu daerah, maka jangan memasuki daerah tersebut. Dan jika wabah terjadi di suatu daerah, dan kalian sedang berada di dalamnya, maka jangan keluar dari daerah tersebut”.

Maka dari itu, alangkah lebih baiknya bagi kita untuk mengikuti tuntunan yang telah duajarkan oleh Islam. Dan rasa takut terhadap virus tersbut sangatlah tidak pantas, karena virus tersebut juga ciptaan Allah. 

Barangkali virus tersebut adalah bala tentara yang Allah kirim untuk memberantas kaum-kaum yang tidak menyembah Allah. Hal ini dikuatkan dengan potongan ayat 31 dari Surat Al-Muddatstsir, Allah berfirman:

وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ ۚ

Artinya: “Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri.”

Demikian yang bisa disampaikan, semoga dengan adanya penjelasan di atas, kita tidak lagi keliru dalam bersikap tawakkal dan takut. Karena dengan adanya kejadian ini pastilah terbesit hikmah yang menakjubkan di dalamnya. Abuya juga berpesan kepada kita (santri) untuk lebih maksimal lagi dalam beribadah dan juga berdoa (dalam artian taqorrub ilallah), supaya kita semua terhindar dari virus tersbut dan segera dihilangkan wabah ini dari dunia.

 Aamien. (… Al-Fatihah)

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Salam Ta’dhzim Kami,
Creator Team Asy-Syadzili Center
Selasa,21 Maret 2020 M / 26 Rojab 1441 H
Sumberpasir, Pakis,

Tags :

Posting Komentar