Silahkan chat dengan tim kami Admin akan membalas dalam beberapa menit
Halo, Ada yang bisa kami bantu?
Mulai chat...

Santri Dalam Tinta Sejarah Kemerdekaan Indonesia


 Assalamualaikum, wr. wb

Surabaya, 22 Oktober 1945.

Terik pada siang hari itu tak menyurutkan semangat jihad para santri. Semangat mereka dipicu oleh suatu keputusan yang terbentuk pada rapat PBNU 21 Oktober 1945. Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari selaku Rais Akbar di kantor PB ANO (Pengoeroes Besar Ansor Nahdlatoel Oelama) didampingi pula ketua besar PBNU KH. Wahab Hasbullah membuat suatu keputusan dalam bentuk resolusi yang diberi nama ‘Resolusi Jihad Fii Sabiilillah’ yang berisi :

 “Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep kalaoe dikertjakan sebagian sadja…)

Sebenarnya perang dunia ke II sudah selesai semenjak Jepang takluk pada tanggal 15 Oktober 1945. Namun tentara Inggris dengan dibonceng NICA datang diwaktu Indonesia sedang kosong kepemimpinan. Mereka hendak merebut kembali tahta jarahan Jepang yang telah mundur, yakni negara Indonesia.

Wajar saja hal ini membuat geram rakyat Indonesia, sehingga di cetuskanlah Resolusi Jihad. Kegeraman mereka di dukung pula oleh pidato menggebu-gebu Bung Tomo pada tanggal 24 Oktober 1945 di Surabaya dengan isi sebagai berikut :

“Kita ekstrimis dan rakyat, sekarang tidak percaya lagi pada ucapan-ucapan manis. Kita tidak percaya setiap gerakan (yang mereka lakukan) selama kemerdekaan Republik tetap tidak diakui! Kita akan menembak, kita akan mengalirkan darah siapa pun yang merintangi jalan kita! Kalau kita tidak diberi Kemerdekaan sepenuhnya, kita akan menghancurkan gedung-gedung dan pabrik-pabrik imperialis dengan granat tangan dan dinamit yang kita miliki, dan kita akan memberikan tanda revolusi, merobek usus setiap makhluk hidup yang berusaha menjajah kita kembali!”

“Ribuan rakyat yang kelaparan, telanjang, dan dihina oleh kolonialis, akan menjalankan revolusi ini. Kita kaum ekstrimis, kita yang memberontak dengan penuh semangat revolusi, bersama dengan rakyat Indonesia, yang pernah ditindas oleh penjajahan, lebih senang melihat Indonesia banjir darah dan tenggelam ke dasar samudera daripada dijajah sekali lagi! Tuhan akan melindungi kita! Merdeka! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

Bung Tomo pada saat berpidato pada 24 Oktober 1945

Kemelut panjang ini semakin menjadi-jadi dengan tewasnya Brigjend Aubertine Walter Sothern (A.W.S) Mallaby, di jembatan merah Surabaya. Komandan Brigade 49 Divisi Punjab India yang memimpin kekuatan tempur ±6000 pasukan, gugur hanya dengan peluru timah rakyat pribumi yang sontak menggegerkan seluruh dunia. (Dalam versi lain ada yang menyebutkan tewas ditikam bambu runcing) Dan disusul mobil yang memboncengnya hancur lebur diledakkan granat tangan.

Hal ini tentunya memunculkan amarah dari pihak Inggris yang dengan kacaunya membentuk banyak Ultimatum kepada rakyat Indonesia, salah satunya dengan menyerahkan senjata tanpa syarat.

Karena saat itu senjata yang dimiliki rakyat Indonesia hanya sejumlah beberapa pistol rampasan perang. Tentu saja tidak ada senjata yang akan diserahkan. Jendral Abdul Haris Nasution menyebutkan dalam Sejarah Perjuangan Nasional di bidang Bersenjata (1966) sebagai berikut :

“Ketika Pak Dirman (Jendral Sudirman) menginspeksi batalyon TKR di Bandung, beliau hanya menemukan sepucuk pistol yang dimiliki komandan Batalyon sementara anggota batalyon hanya memegang bambu runcing,” sebutnya.

Untuk memenuhi kebutuhan senjata ini tentunya masyarakat Indonesia tak kehabisan akal. Mereka memakai bambu runcing sebagai penggantinya. Lalu, apa yang spesial dari bambu runcing ini?

Bambu itu ternyata dilengkapi barakah do’a dari para Kyai. Salah satu dari Kyai yang  dipercaya berkah do’anya ialah Kyai Subkhi Parakan, beliau merupakan salah satu guru KH. Wahid Hasyim putra dari Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari.

KH. Subkhi Parakan, sang kyai bambu runcing

Bahkan diperoleh keterangan bahwa jumlah para tamu yang datang untuk menyepuh bambu runcing ke Parakan tak kurang dari 10 ribu orang per harinya.

Zuhri, dalam buku Guruku Orang-orang Pesantren menambahkan keterangan pelaksanaan penyepuhan tersebut :

“Sebelum berangkat ke medan pertempuran sembari berbaris dilapangan dengan membawa bambu runcing, para pejuang itu diberkahi oleh Kyai Subkhi dengan do’anya.” 

Hal itulah yang membuat para pejuang khususnya dari kalangan santri menjadi teguh hatinya dalam menghadapi tentara sekutu yang bersenjata lengkap. Hal ini juga membuktikan bahwa peran santri dalam usaha melepas negara dari genggaman para penjajah menjadi poin utama dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia.

Maka alangkah baiknya, kita selaku descendant (keturunan/penerus) para pejuang berusaha meneladani kegigihan leluhur kita dalam menjaga keutuhan bangsa ini. Jangan sampai muncul lagi kekosongan kepemimpinan dalam negri kita. Atau kosongnya jiwa kepemimpinan dalam hati pemuda-pemudanya. Terlebih lagi kekosongan Iman dalam hati para pemimpin-pemimpinya. 

Semoga artikel ini dapat membawa manfaat bagi kita semua. Amiin...

Wassalamualaikum, wr. wb

 

Salam Ta’dhzim Kami,

Santripasir Media Creative (Journalist Team)

30 Oktober 2020 M / 13 Rabi'ul Awwal 1442 H

Sumberpasir, Pakis, Malang.

 

Tags :

Posting Komentar