Silahkan chat dengan tim kami Admin akan membalas dalam beberapa menit
Halo, Ada yang bisa kami bantu?
Mulai chat...

Bantahan Ahlussunnah terhadap pengharaman Wasilah


Assalamualaikum, wr.wb  

        Asal kata Wasilah adalah wasala [وسل]dan mashdarnya wasiilatun;[وسيلة], artinya perantara, media atau sarana.Wasilahdalam kajian Islam, adalah perantara hamba kepada Allah SWT. Jadi Wasilah itu sarana agar Hamba terhubung kepada Allah SWT. 
        Dalam hal wasilah kubu Ahlussunnah mendapat banyak penentangan dari kubu Wahabi, dalam teori hukum Wahabi mereka membagi wasilah menjadi 3 hal :
        
        1. Wasilah Masyru(Disyariatkan), yaitu tawassul kepada Allah Azza wa Jalla dengan Asma’ dan Sifat-Nya dengan amal shalih yang dikerjakannya atau melalui do’a orang shalih yang masih hidup.

2.  Bidah, yaitu mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dengan cara yang tidak disebutkan dalam syariat, seperti tawassul dengan pribadi para Nabi dan orang-orang shalih, dengan kedudukan mereka, kehormatan mereka, dan sebagainya.

3. Syirik, bila menjadikan orang-orang yang sudah meninggal sebagai perantara dalam ibadah, termasuk berdo’a kepada mereka, meminta hajat dan memohon pertolongan kepada mereka.

Mereka membid’ahkan Wasilah terhadap Rasulullah. Dan men-kufurkan Ziarah kubur, dengan memakai dalil surat Az-Zumar, Allah Ta’ala berfirman:

 أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ 

“Ingatlah, hanya milik Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya .Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk bagi orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” [Az-Zumar: 3] [19]

Menurut mereka tawassul dengan meminta do’a kepada orang mati tidak diperbolehkan bahkan perbuatan ini adalah syirik akbar. Karena mayit tidak mampu berdo’a seperti ketika ia masih hidup.

Padahal kenyataanya, tidak ada unsur syirik terhadap apa yang dilakukan muslim Ahlussunnah. Sebab sangat jelas bahwa kita berdo’a dengan memakai asmaallah. Bukan asma mayyit. Sedangkan bentuk ziaroh kubur hanya bertujuan untuk mendoakan ahli kubur tersebut. Adapun meminta wasilah terhadap ulama’ yang meninggal tidak termasuk syirik karena pada dasarnya mereka tidak dihukumi mayyit.

Jadi alangkah baiknya jika pembaca rahimakumullah mengetahui dalil yang sebenarnya mengenai Tawassul dan berdo’a untuk ahli kubur.

Dalil meminta tawasul kepada ulama’ para Nabi dan orang-orang Shalih dari segi logika:

Mereka mengharamkan tawassul atas nabi dengan alasan bahwa dulu orang kafir memakai berhala Latta dan ‘Uzza sebagai wasilah menuju Allah. Mengenai hal ini Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki dalam kitab “Az Ziarah an Nabawiyah Baina al Syariah wa al Bid’ah beliau mengkritik pemahaman ini dan berujar dalam kitab beliau :

“Bagaimana mungkin mencintai orang yang dicintai Allah itu salah?”

Beliau marah, atas pendapat orang yang mengharamkan Ziaroh pada Rasul. Padahal itu merupakan suatu bentuk cinta kita terhadap Rasulullah SAW. Rasulullah berstatus Ahabbal Halqi ‘orang yang dicintai Allah’, maka apakah salah kita mencintai Rasul sebagaimana Allah-pun mencintainya?

Dan bagaimana mungkin mereka menyamakan Ahabbal Halqi dengan berhala Latta dan ‘Uzza, sehingga mereka memakainya sebagai dalil untuk mengharamkan ziaroh?

Artinya setiap bentuk ziaroh terhadap Nabi dan Ulama’ yang dicintai oleh Allah ataupun bertawassul terhadap mereka, merupakan bentuk cinta terhadap mereka.

Abuya Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki

Untuk tawassul sendiri baik ‘Ulama Ahlussunnah, Wahabi atau Syi’ah menggunakan dalil yang sama :

أَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱبْتَغُوٓا۟ إِلَيْهِ ٱلْوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُوا۟ فِى سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Arab-Latin: Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha wabtagū ilaihil-wasīlata wa jāhidụ fī sabīlihī la'allakum tufliḥụn Terjemah Arti: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Ma’idah: 35)

Ini adalah permintaan dari Allah, agar kita mencari wasilah (perantara), yaitu segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai sebab untuk mendekatkan kepada-Nya dan sampai pada terpenuhinya hajat dari-Nya. 

Namun, sebenarnya tawassul yang disebut ayat tersebut umum dan bersifat mutlak. Sehingga mereka yang membatasi tawassul itu sendiri tidak memiliki dasar atau dalil. Sedangkan jika tawassul itu hanya dinisbatkan pada amal shalih, padahal amal perbuatan merupakan sesuatu yang diciptakan, makadzat-dzat yang diridloi oleh Allah lebih berhak dibolehkan, mengingat ketinggian tingkat ketaatan, keyakinan dan ma'rifat dzat-dzat itu kepada Allah SWT.

Mengenai hal ini Allah SWT.berfirman:

 وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ جَآءُوكَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ ٱللَّهَ وَٱسْتَغْفَرَ لَهُمُ ٱلرَّسُولُ لَوَجَدُوا۟ ٱللَّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

Artinya : Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul-pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.(QS. An-Nisa' : 64).

Ayat ini dengan jelas menerangkan dijadikannya Rasulullah sebagai wasilah kepada Allah SWT. Firman Allah "Jaa-uuka" (mereka datang kepadamu) dan "Wastaghfaro lahumurrosuulu" (dan Rasul memohokan ampun untuk mereka). Andaikata tidak demikian, maka apa guna kalimat "Jaa-uuka"?

Lalu apakah tawasul itu dibolehkan secara umum, baik dengan orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati? Jawabanya ya, dibolehkan secara umum, karena ayat tersebut juga umum ('amm), baik Rasulullah hidup atau wafat.

Seperti itulah kiranya dalil-dalil yang bisa dijadikan patokan dalam ber-ziaroh. Semoga ilmu kita bermanfaat. Amiin.

 

Salam Ta’dhzim Kami,

Santripasir Media Creative (Journalist Team)

6 November 2020 M / 20 Rabi’ul Awwal 1442 H

Sumberpasir, Pakis, Malang.

Tags :

Posting Komentar